Jelang Pemilu 2019, 4 Ribu Warga Tanjung Redeb ‘Hilang’

 

TANJUNG REDEB – Jelang Pemilu 2019, tercatat setidaknya 4.157 warga Tanjung Redeb ‘hilang’ dari data pemilih. Berdasarkan data yang dihimpun beraunews.com dari Data Agregat Kependudukan Per Kecamatan (DAK2), pada tahun 2014 penduduk Tanjung Redeb yang berstatus pemilih berjumlah 70.698, sementara pada tahun 2017 menurun menjadi 66.541 penduduk. Artinya telah terjadi penurunan jumlah penduduk yang cukup signifikan dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, yakni mencapai 5,88 persen.

Berkurangnya jumlah penduduk ini juga memberi dampak pada penurunan alokasi kursi anggota DPRD Kabupaten Berau Dapil I Tanjung Redeb, dari 10 kursi di tahun 2014 menjadi 9 kursi di tahun 2019 mendatang.

Kodisi ini, menjadi pertanyaan penting yang harus dijawab mengingat Tanjung Redeb sebagai ibukota Kabupaten Berau seharusnya menjadi magnet pertambahan penduduk, sebagaimana di kota-kota lainnya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, jumlah penduduk mengalami penurunan.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Plt Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Berau, Anwar melalui Kepala Bidang Pendaftaran Penduduk, Masgul membenarkan telah terjadi penurunan jumlah penduduk di Tanjung Redeb. Hal itu terjadi bukan tanpa alasan, menurutnya, DAK2 tahun 2012 sebagai dasar Pemilu 2014, merupakan data yang belum valid, sebab masih banyak penduduk yang belum melakukan perekaman E-KTP sehingga masih ditemukan kegandaan data.

Melalui pembersihan data, keberadaan data penduduk yang beridentitas ganda tersebut dapat diketahui dan salah satunya akan terhapus secara otomatis sehingga data menjadi valid.

“Nah setelah 2017 ini, data-data yang tahun 2014 itu dibersihkan karena ada sebagian masyarakat yang memiliki data ganda. Inilah kehebatan E-KTP, setiap tahun data pasti dibersihkan sehingga langsung bisa valid. Satu orang hanya memiliki satu NIK,” ungkapnya kepada beraunews.com, Kamis (15/02/2018).

Selain pembersihan data, penurunan jumlah penduduk di Tanjung Redeb juga dipicu oleh tutupnya beberapa perusahaan di Kabupaten Berau yang berakhir dengan solusi ‘merumahkan’ karyawannya. Sehingga tidak sedikit dari karyawan tersebut yang kembali ke kampung halaman masing-masing.

“Yang kedua penurunan itu dikarenakan banyak perusahan yang tutup akhirnya penduduk banyak balik ke kampung asalnya, sehingga turun jumlah penduduk karena pindah datang itu tadi,” pungkasnya.(hnf/bnc)