Dinyatakan Aliran Sesat Sejak Tahun 2002, Nata Agung Masih Eksis Hingga Kini

 

TANJUNG REDEB – Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengakomodir penganut aliran kepercayaan, akan segera diterapkan. Bahkan, dampaknya, E-KTP yang telah dicetak, bakal segera ditarik kembali dari tangan masyarakat. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Berau, Fredy Suryadie.

Lalu apakah di Berau ada penganut aliran kepercayaan, ditanya seperti itu Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Berau, Alfi Taufik melalui Humas, Rachmad Hidayat mengatakan, di Berau sejak tahun 2002 sudah ada aliran kepercayaan, namanya Nata Agung. Kepengurusan Nata Agung dipegang orang yang berinisial SS, dan aliran kepercayaan ini sempat berkembang di dua kecamatan, yaitu Sambaliung dan Talisayan.

Tahun 2002, dikatakan Rachmad, MUI Berau mengeluarkan fatwa yang menyebut Nata Agung sebagai aliran sesat. Bahkan, Kepala Kejaksaan Negeri Tanjung Redeb pada tahun 2003 mengeluarkan pula Surat Keputusan (SK), yang memerintahkan penghentian kegiatan Nata Agung.

“Setelah Nata Agung dibubarkan, mereka tidak berjalan maksimal lagi, dimana pemeluk kepercayaannya sudah tidak banyak lagi, hanya sekitar Kelurahan Sambaliung Kecamatan Sambaliung saja. Dan, perlu diketahui, saat terakhir kami dan Kesbangpol Berau melakukan pemantauan di Oktober 2017, Nata Agung ini tetap berjalan,” ungkapnya kepada beraunews.com, Sabtu (18/11/2017).

BACA JUGA : E-KTP Bakal "Ditarik" Dari Tangan Masyarakat

Terkait berapa jumlah pemeluk aliran Nata Agung, Rachmad mengatakan, berdasarkan hasil pantauan, pemeluk aliran kepercayaan ini tersisa sekitar 12 orang saja, dan keberadaan mereka tersamar, hanya diketahui orang-orang disekitar daerahnya saja.  

“Penganutnya ada petani, pedagang hingga karyawan atau pegawai. Nata Agung ini juga memiliki tempat ibadahnya sendiri. Berdasarkan informasi terakhir, ada mushola kecil di sekitar mereka tinggal, dan musholanya ini tidak boleh dimasuki oleh orang lain. Hanya untuk kalangan sendiri,” bebernya.

Lalu, sebelum keluarnya keputusan MK, agama apa yang dicantumkan pemeluk aliran keprcayaan Nata Agung, Rachmad menjawab, berdasarkan hasil kordinasi pihaknya bersama Disdukcapil Berau, diketahui mereka mencantumkan Agama Islam di KTP yang mereka urus. Hasil penelusuran, dikatakan Rachmad, Nata Agung ini memang seperti Agama Islam, tapi ada beberapa rukun dan syariat Islam yang tidak mereka jalankan

“Penyimpangan Nata Agung dari ajaran Agama Islam, diantaranya tidak mewajibkan salat 5 waktu, tidak perlu menunaikan ibadah haji ke Mekah, tapi disini pun bisa,” tandasnya.

Untuk diketahui, Nata Agung, awalnya adalah sebuah yayasan yang didirikan Sucipto di Desa Sidodadi, Malang pada 1982. Selanjutnya, diteruskan anaknya, Bambang Mangku Subagyo yang mendirikan proyek Nata Agung berkedudukan di Jl Agathis, Karang Anyar, Tarakan. Visi misi yayasan Nata Agung ini awalnya hanya untuk mengentaskan kemiskinan.(bnc)