Diadukan Karyawan, PT SAL Dipanggil Disnakertrans

BATU PUTIH – PT Sumalindo Alam Lestari (SAL) mendapat panggilan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau. Perusahaan yang berada di Kampung Tembudan Kecamatan Batu Putih itu terpaksa dipanggil buntut dari protes keras dan laporan karyawan. Bahkan, lantaran kebijakan perusahaan yang tak disetujui karyawan, Sabtu (1/07/2016) karyawan disana kecewa sampai ada yang mogok kerja.

Pemicunya, Tunjangan Hari Raya (THR)  yang dibayar pihak perusahaan tidak sesuai dengan harapan. Gaji karyawan yang dijanjikan pihak manajemen PT SAL yang akan dibayarkan bersamaan dengan THR pun, ternyata dianggap hanya janji kosong.

Salah seorang karyawan yang identitasnya minta dirahasiakan mengatakan, sebenarnya karyawan sudah meminta pihak perusahaan untuk mengupayakan pembayaran gaji sesuai dengan jadwal yang ditentukan pemerintah. Namun, pihak perusahaan meminta karyawan bersabar dulu, sebab THR akan dibayarkan bersamaan dengan gaji.

"Makanya kita sabar, tapi faktanya tidak seperti itu. THR malah keluar 29 Juni kemarin, gaji yang dikatakan bersamaan dengan THR itu tidak ada," ujar Vi pada beraunews.com, Minggu (3/7/2016).

Tak hanya itu, dirinya juga tidak mengerti dengan sistem hitung-hitungan pembagian THR yang dilakukan pihak perusahaan. Pasalnya, banyak karyawan yang sudah mengabdi lebih dari setahun tidak mendapatkan THR satu bulan gaji. Bahkan, ada salah seorang karyawan yang sudah setahun lebih bekerja hanya dapat THR Rp200 ribu lantaran dia cuti melahirkan.

"Bukan cuman satu orang saja, banyak karyawan yang tidak dapat haknya sebagamana mestinya. Lagipula, jika gaji tidak keluar, uang segitu mau dipakai buat apa, sedangkan orang sudah berkeluarga," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Pengurus Komisariat (PK) Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) PT SAL, Nicolaus Lokonuha membenarkan jika banyak karyawan yang mengeluh dengan kebijakan perusahaan yang tidak adil. Ia, sempat tak habis pikir dengan sikap yang ditunjukkan perusahaan, terutama mengenai pemberian THR dan gaji yang selalu telat. Belum lagi, sudah dua bulan terakhir slip gaji karyawan sudah ditiadakan.

"Saya sempat bawa staf perusahaan menemui karyawan yang ada di lapangan untuk menjelaskan kenapa gajian habis lebaran baru keluar, sementara THR juga tidak karu-karuan (tidak jelas-red). Soalnya suasana dilapangan sudah mulai memanas. Kita tidak mau pada akhirnya terjadi anarkis," jelasnya.

Ditambahkannya, PK SBSI juga telah melayangkan surat aduan tertanggal 9 Juni 2016 kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau terkait persoalan yang menimpa karyawan itu. Dijelaskannya, dalam surat tersebut, ada sejumlah item yang diadukan yakni, tidak didaftarkannya tenaga kerja ke BPJS, hak cuti tenaga kerja perempuan yang tidak diberikan dikarenakan haid dan melahirkan serta selalu terlambatnya pembayaran upah tenaga kerja hingga 1,5 bulan.

"Saya sudah laporkan ke Disnaker, termasuk pembayaran THR. Pada tanggal 28 Juni 2016 kemarin, Disnaker juga sudah memberikan surat panggilan kepada pihak perusahaan (PT SAL-red). Jadi tanggal 13 Juli mendatang perusahaan diminta menghadap Disnaker dan perusahaan sudah diberikan tembusannya," tutupnya.(hir)