Perokok Dikeluarkan dari Kategori Miskin?

 

TANJUNG REDEB – Tak jarang merokok merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyakit pada paru-paru. Jika seseorang sudah terkena penyakit dan harus dibawa ke rumah sakit, otomatis biaya yang tak sedikit akan dikeluarkan.

Di Berau sendiri banyak masyarakat yang merokok mulai dari kalangan atas, menengah hingga bawah. Melihat kondisi tersebut, Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo meminta agar warga yang masuk dalam kategori miskin, tidak merokok.

Agus mengatakan, masyarakat diminta untuk menjadikan hidupnya lebih sehat, terutama masyarakat yang kurang berkecukupan agar lebih hemat. Di Malaysia sendiri contohnya, sudah ada penerapan kebijakan mengeluarkan masyarakat yang merokok dari kategori miskin.

"Kalau masyarakat yang menerima baik barang, uang, atau tunjangan kesehatan setidaknya tidak merokok. Setidaknya bantuan bisa dipergunakan untuk kebutuhan yang lebih penting," ungkapnya kepada beraunews.com, Rabu (26/07/2017).

Agus menambahkan, bantuan yang diberikan kepada perokok, seperti halnya tunjangan, dianggap sia-sia. Pasalnya, dengan masyarakat merokok kurang lebih dengan sengaja merusak kesehatannya sendiri.

"Memang rokok di Indonesia bukan jadi indikasi kemiskinan, namun kalau memang ada kebijakan, ya itu lebih baik," imbuhnya.

Untuk di Berau, standar kemiskinan tidak berbeda dengan daerah lain. Standar kemiskinan masih mengikuti 14 kriteria menurut BPS yang merupakan indikator dan sudah disepakati secara global.

"Untuk bahan bakar yang digunakan saat memasak sehari-hari itu kayu bakar, arang atau minyak tanah, hanya mengkonsumsi daging, susu dan ayam sekali dalam seminggu dan lainnya," tandasnya.

Wabup menambahkan, jika pihaknya bukan tidak setuju jika orang yang merokok dikeluarkan dari kategori miskin, melainkan tidak bisa merubah indikator yang telah disepakati

"Kita tidak bisa bikin definisi sendiri, yang jelas kita tetap mengacu pada indikator yang sudah ada,” pungkasnya.(bnc)

Wartawan: Dedy Warseto/Editor: Rita Amelia