Peredaran Vaksin Palsu Belum Terpantau

TANJUNG REDEB – Peredaran vaksin di Kabupaten Berau belum terpantau. Padahal, baru-baru ini Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri membongkar sindikat pemalsu vaksin untuk polio, BCG, hepatitis dan beberapa lainnya untuk balita di Pondok Aren, Tangerang, sejak Selasa (21/6/2016) lalu. Kondisi ini pun sangat meresahkan para orang tua yang memiliki anak usia balita.

Menyikapi hal itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau melalui Kabid Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Andarias Baso menjamin vaksin yang diedarkan pihaknya melalui Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit, asli dan aman digunakan.

Meski demikian, Andarias tak berani menjamin keamanan dan keaslian vaksin yang digunakan dokter di praktek umum. Pasalnya, pemilik atau pengelola praktek umum di Berau, selama ini sama sekali tak ada koordinasi dalam pengadaan vaksin mereka ke Dinkes Berau.

“Saya tidak tahu kalau vaksin yang digunakan oleh praktek umum. Karena sebagian besar praktek umum tidak ada koordinasi dengan kami,” ujarnya.

Hal itu pun diakui Sekretaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Berau, dr. Erva Angriana yang menyebutkan, peredaran vaksin khususnya di praktek-praktek umum masih belum terpantau maksimal. Ia mengakui, dirinya tidak tahu pasti asal peredaran vaksin di praktek umum.

“Saya kurang paham kalau di dokter swasta dari mana (vaksinnya-red), tapi biasanya itu kan ada kerja sama dengan perusahaan farmasi besar,” katanya.

Namun, ditegaskannya sejauh ini di Kabupaten Berau tak pernah ditemukan adanya permasalahan terkait vaksin pada praktek umum.

“Kalau untuk teman-teman dokter swasta, selama ini sih saya lihat aman-aman saja. Mereka ada medical representative (marketing perusahaan farmasi-red), biasanya berasal dari perusahaan farmasi,” tegasnya.

Menanggapi penangkapan sindikat pemalsu vaksin, Erva yang juga Humas RSUD dr. Abdul Rivai ini mengatakan, dalam menjalankan bisnis vaksin palsu itu, pelaku tidak memiliki medical representative dan vaksin palsu itu biasanya terbuat dari cairan infus yang ditambahkan antibiotik.

“Kita tidak tahu antibiotik apa yang digunakan, kemudian diinjeksikan sehingga bisa dipastikan mereka tidak memiliki medical representative atau biasa disebut duta perusahaan atau seseorang yang dipercaya untuk mewakili perusahaan guna mempromosikan produk secara profesional, kredibel dan berintegritas,” jelasnya.

Ia pun menambahkan dalam penggunaan antibiotik khususnya pada anak balita tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada tahapan yang harus dilalui. Sebelum diberikan antibiotik akan dilakukan skin test terlebih dahulu guna menghindarkan anak balita dari efek alergi obat. Dalam hal ini, skin test tersebut akan di cek dan observasi selama lima menit.

“Kalau dinilai aman, maka antibiotik itu bisa diinjeksikan. Jadi tidak sembarangan dalam penggunaan antibiotik ini karena ada anak-anak yang alergi terhadap zat antibiotik,” tutupnya.(sai)