Peringatan Nuzulul Qur'an Sebagai Momentum Perbaikan Diri

TANJUNG REDEB- Peringatan malam Nuzulul Qur’an 1437 Hijriah yang digelar Selasa Malam (21/6/2016), di Masjid Agung Baitul Hikmah, Tanjung Redeb, dihadiri oleh Bupati Berau Muharram, yang juga sekaligus mengisi materi tausiyah pada kegiatan tersebut. Tema yang diusung dalam peringatan Nuzulul Qur’an tersebut adalah “Mari Jadikan Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup Untuk Membentengi Diri Dari Pengaruh Perkembangan Teknologi, Informasi, dan Globalisasi”.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, Sekretaris Daerah (Sekda) Jonie Marhansyah, serta beberapa anggota DPRD Berau dan pejabat dilingkungan Pemkab Berau.

Bupati Muharram dalam tausiyahnya mengungkapkan ciri-ciri dan kekhususan kitab suci Al-Qur'an sehingga bisa dijadikan pedoman hidup manusia khususnya umat muslim.

“Pertama, kitab itu suci apabila tidak ada campur tangan manusia dalam pembuatan dan penciptaannya. Al-Qur’an adalah murni seratus persen firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Kedua, ciri-ciri kitab itu suci adalah isi dan kandungannya sesuai dengan fitrah manusia,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa Al-Qur'an yang terdiri 6.666 ayat, 118 surat dan 30 juz juga memiliki kekhususannya sehingga dikatakan suci, yakni isi dan kandungan dalam keselurahan ayat tidak ada yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya.

“Faktor yang ketiga, kitab itu bisa dikatakan suci apabila isinya antara yang satu dengan yang lain, tidak ada saling tumpang tindih dan saling bertentangan. Dari 6.666 ayat, 118 surat, dan 30 juz, semua ayat Al-Qur'an itu tidak ada saling tumpang tindih, yang satu mengatakan ke kiri dan yang satu mengatakan ke kanan. Tidak ada itu, semua sempurna dan utuh,” tambahnya.

Selain itu, Muharram juga menceritakan kisah lahirnya Syarifudin Khalifah dari Negeri Etiopia yang banyak mengislamkan warga negeri Etiopia.

“Sebagai mukjizat, di Negara Etiopia lahir seorang manusia yang diberi nama Syarifudin Khalifah, dari seorang ayah khatolik (Agama Kristen Khatolik-red) dan ibu khatolik. Dalam usia tiga tahun, anak ini sudah hafal Al-Qur’an. Bahkan, ketika dia mau disusui oleh ibunya, dia tidak mau menyusu sebelum ibunya mengikrarkan dua kalimat syahadat,” bebernya.

Melalui kegiatan tersebut Muharram mengharapkan umat muslim di Bumi Batiwakkal dapat betul-betul menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, serta memahami isi dan kandungannya.

“Saya juga ingin menyampaikan kepada kita semua, khususnya kita sebagai masyarakat Kabupaten Berau, janganlah jadikan Al-Qur'an hanya sekadar bacaan. Tetapi mari kita pahami isi dan kandungannya, karena Al-Qur’an bisa berfungsi sebagai pedoman hidup apabila isi dan kandungannya kita pahami dan mari memperbanyak majelis-majelis ilmu dan Al-Quran,” pungkasnya.(sai)