Dari LPAWK Gunung Tabur, Bupati Ajak Seluruh Suku Berkontribusi Bangun Berau

 

GUNUNG TABUR – Memperingati Hari Ulang Tahun Lembaga Pemangku Adat Wilayah Kesultanan (LPAWK) Gunung Tabur, digelar upacara, Kamis (09/02/2017) pagi. Acara bertajuk ‘Mengembangkan Nilai-Nilai Luhur Adat dan Budaya Terkait dengan Hak-Hak Masyarakat Adat demi Ketahanan Negeri Kesatuan Republik Indonesia’ itu dilaksanakan di Lapangan Sepak Bola Sultan Muhammad Siranuddin, Kecamatan Gunung Tabur.

Dalam sambutannya, Bupati Berau Muharram mengungkapkan, sesuai Surat Az-Zariyat Ayat 13, sesungguhnya asal muasal kehidupan manusia di muka bumi adalah hanya dua sosok manusia, yang bernama Nabi Adam dan Hawa. Nenek moyang manusia yang asli hanya satu, ialah Adam dan Hawa.

Selanjutnya, berkat keturunan Nabi Adam dan Hawa ini, manusia diberikan fasilitas kehidupan dunia yang begitu luas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian, masing-masing keturunan Adam dan Hawa melakukan perantauan dan hijrah dari satu tempat ke tempat yang lain.

“Akhirnya, membangun komunitas diri masing-masing, yang awalnya masih buta huruf. Yang awalnya hanya mengenal siapa yang kuat dan siapa yang kokoh, boleh jadi dia menjadi raja dan pemimpin,” ungkapnya.

Seiring dengan perkembangan zaman, lanjut Muharram, akhirnya membentuk suatu kerajaan, dinasti atau satu kepemimpinan, sehingga memunculkan berbagai macam adat istiadat. Adat istiadat yang diciptakan oleh suku-suku, bangsa-bangsa, maupun situasi dan kondisi lingkungan yang menempah masyarakat.

Akhirnya, muncullah raja-raja yang tersebar di seluruh pelosok dunia, bahkan di Indonesia sendiri. Tetapi, tujuan akhir dari semua itu, ialah manusia kembali dipersatukan dengan sebuah tali silaturahim dan kasih sayang.

“Dan, siapa yang paling mulia diantara kita semua? Ternyata, bukan karena pakaian, pangkat maupun jabatan, apalagi hanya sekadar jabatan Bupati, bukan itu yang ternyata menjadi mulia di sisi Allah SWT. Yang mulia diantara kita semua adalah siapa yang paling taqwa di sisi Allah SWT,” ujarnya seraya membacakan ayat suci Al Qur’an.

Wahai Manusia (kata Allah SWT) dialah Allah yang menciptakan kalian dari laki-laki dan wanita, Adam dan Hawa. Dan, menciptakan kamu menjadi bersuku-suku, berkabilah-kabilah, berbangsa-bangsa, apa target utamanya (kata Allah)? Untuk saling kenal mengenal,” lanjutnya.

Dikatakan Muharram, ayat suci Al Qur’an itu juga dilanjutkan dengan sebuah hadist ‘Bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak melihat wajah dan harta kamu, tidak melihat penampilan fisik dan harta yang kamu miliki. Tetapi, Allah justru melihat apa yang ada di hatimu dan apa yang menjadi amal perbuatanmu”.

Untuk itu, pelantikan Lembaga Pemangku Adat Wilayah Kesultanan Gunung Tabur, bertujuan untuk mempersatukan seluruh pemuda pemudi dan masyarakat Kabupaten Berau sehingga antara satu dengan lain saling hidup berdamping secara damai, hormat menghormati, dan harga menghargai. Sebab, negeri ini juga mustahil hanya diatur oleh satu suku atau dikendalikan oleh satu adat.

“Keberagaman kita dengan berbagai macam pakaian, ada Bugis, Jawa, Madura, Sunda, Dayak, Bajau, Berau, bahkan suku-suku lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,” katanya.

 

Kegiatan ini juga bukan dalam rangka untuk menunjukan siapa yang lebih hebat? Siapa yang harus diakui dan dihormati? Tetapi, untuk menanyakan kepada diri pribadi atau suku masing-masing, apa yang dapat disumbangkan untuk kemajuan Kabupaten Berau?

“Saya ingin mengajak Keraton Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung, mestinya harus lebih hebat, jeli dan harus lebih banyak partisipasinya untuk membangun, karena kita memiliki negeri Kabupaten Berau ini. Jangan sampai justru orang pendatang jauh lebih peduli terhadap Berau,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Muharram juga ingin menyampaikan rasa syukur terkait kondusifitas Kabupaten Berau selama ini. Sepengetahuannya, ia tidak pernah melihat ataupun mendengar akan terjadinya sesuatu yang menyebabkan antara satu suku dengan suku yang lain saling bentrok dan bermusuhan. Semua suku hidup saling hidup rukun, damai, bahkan kedua keraton yang ada di Kabupaten Berau dapat saling bersanding bersama dalam setiap kesempatan.

“Walaupun satu berwarna putih, satu berwarna hitam. Tapi, insya Allah, hatinya sama dalam rangka untuk memajukan Kabupaten Berau. Sama-sama bisa kita saksikan, topinya sama menjulang warna kembang putih ke atas. Itu maknanya bahwa dipikirannya, mereka berdua adalah suci bersih untuk memajukan Kabupaten Berau,” bebernya.

Oleh karenanya, tegas Muharram, dirinya ingin mengajak seluruh elemen masyarakat yang ada untuk bersama-sama membangun Kabupaten Berau ke depannya. Ia juga kembali mengharapkan adanya masukan dari pemangku adat Keraton Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung.

“Bimbing kami, berikan jalan yang lurus supaya Kabupaten Berau di masa depan jauh lebih baik dari hari ini tentunya,” pungkasnya.

Diketahui, acara itu dihadiri beberapa pengurus Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), perwakilan Kesultanan Brunei Darussalam, dan undangan lainnya.(bnc)

Wartawan: Andi Sawega/Editor: R. Amelia