Punk Tak Dilarang, Asal Tak Ganggu Ketenteraman

 

TANJUNG REDEB – Keberadaan anak punk atau sekelompok anak muda yang memiliki gaya hidup berbeda dari masyarakat pada umumnya, sebenarnya tidak dilarang oleh Pemkab. Namun, ada aturan dan nilai-nilai moralitas yang harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Satpol PP, Ahmad Ismail, saat dikunjungi beraunews.com di kantornya, Rabu (24/1/2017).

Dikatakan Ismail, selama keberadaan anak punk tersebut tidak mengganggu ketertiban, ketenteraman dan keamanan masyarakat, maka tidak masalah bagi pihaknya. Namun, berbeda dengan yang diharapkan, beberapa anak punk yang terjaring razia merupakan anak punk yang kerap meresahkan dengan ulahnya meminta-minta kepada masyarakat dengan cara setengah memaksa.

"Punk ini sebenarnya adalah gaya hidup. Mereka hadir untuk menunjukkan eksistensi dan perlawanan atau anti terhadap suatu kemapanan. Makanya kita lihat gaya yang mereka pakai sehari-hari itu adalah gaya yang istilahnya jauh dari kata rapi. Tapi sebenarnya tidak ada yang melarang kehadiran mereka, asal jangan sampai mengganggu ketenteraman masyarakat, apalagi sampai mengancam dan sebagainya," jelasnya.

BACA JUGA : Berantas Penyakit Masyarakat Perlu Dukungan Lintas Sektor

Selain itu, ia juga menyebutkan anak punk merupakan anak-anak yang harus diperhatikan juga oleh Pemkab. Bahkan, jika memungkinkan keberadaan mereka dapat diakomodir oleh Pemkab melalui instansi terkait, untuk dapat diberikan arahan maupun pelatihan dalam kesenian maupun berwirausaha.

"Anak-anak ini juga adalah anak-anak kita. Jadi sudah sewajarnya kalau mereka berada di jalan yang kurang baik, kita sebagai orang tua mengarahkannya kembali ke jalan yang baik. Memang identik sekali mereka dengan kenakalan-kenakalan itu, tapi punk yang sejati itu tidak seperti itu. Mereka justru dapat membawa gaya hidup mereka berbaur dengan masyarakat, mengasah kemampuan seninya, atau mengasah kemampuan lain yang dimilikinya," katanya.

Ia juga mencontohkan daerah lain yang keberadaan anak punknya tidak terhitung lagi. Namun dengan kemampuan yang dimiliki mereka untuk mencukur rambut dan bermain musik, menjadikan mereka anak punk yang sejati, dalam artian tidak mengganggu ketenteraman, tidak berkaitan dengan kenakalan remaja dan sebagainya. Ia pun mengharapkan anak punk yang berada di Berau tidak lagi bercitra negatif, namun dapat menjadi inspiratif bagi semua kalangan.

"Intinya adalah keberadaan anak punk tidak akan menjadi momok menakutkan bagi kita, ataupun meresahkan. Tapi sebaliknya, dapat menjadi anak-anak muda kreatif meski mereka menginginkan gaya berpenampilan punk. Maka seluruh pihak wajib mendorong hal ini, agar tercipta lingkungan masyarakat yang aman dan tentram meski ada anak-anak punk," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia