Berganti Kepemimpinan, Warga Derawan Harapkan Perubahan

 

PULAU DERAWAN – Jumat (23/12/2016) pagi kemarin, Bupati Berau, Muharram dan Wakilnya, Agus Tantomo, melakukan pergeseran 102 jabatan struktural di lingkungan Pemkab Berau. Dari mutasi pejabat itu, salah satu yang menjadi sorotan adalah pucuk pimpinan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang semula dipimpin Rohaini, kini beralih ke Mappasikra Mappaseleng yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pertambangn dan Energi.

Perubahan pucuk pimpinanan Disbudpar ini disambut hangat masyarakat Pulau Derawan, salah satunya adalah Baco. Dikatakannya, sejauh ini memang terdapat sejumlah program Disbudpar yang belum tepat sasaran, sehingga perlu pembenahan yang lebih baik lagi.

"Saya dengar dari teman kalau Kadisbudpar itu sudah bergeser kepemimpinanya. Ini langkah bagus untuk penyegaran program di tubuh Disbudpar. Apalagi banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas terlebih soal wisata Pulau Derawan yang selama ini belum maksimal pengelolaannya," ungkapnya saat berbincang dengan beraunews.com, Jumat (23/12/2016) malam.

BACA JUGA : Mantan Kepala Kampung Pulau Derawan, Benarkan Jika Pelaku Wisata Derawan Masih Belum Maksimal

Salah satu yang menjadi persoalan menonjol di Kepulauan Derawan sebagai pulau wisata ialah persolan sampah. Dimana menurut Baco, hingga saat ini belum ada solusi konkrit pengelolaan sampah. Persoalan lainnya, belum adanya regulasi yang mengatur biaya transportasi penyebrangan bagi wisatawan, yang menjadi persoalan pelik yang tak kunjung terselesaikan.

"Kita selama ini dimainkan calo, baik calo hotel maupun calo speedboat. Bayangkan, harga hotel yang biasanya Rp350 ribu, dinaikan jadi Rp500 ribu. Tambah lagi motoris speedboat, sesuka-suka mereka ngasih harga yang sangat mencekik wisatawan," keluhnya.

Melalui beraunews.com, Baco menyampikan harapan masyarakat Pulau Derawan terhadap pucuk pimpinan Disbudpar Berau yang baru, untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada, yang diakui sangat merugikan warga maupun wisata Berau itu sendiri.

"Kita ingin ini segera diatasi. Ini baru sebagian kecil, masih banyak lagi yang perlu dituntaskan. Bukan hanya di Derawan, bisa jadi ini juga dialami oleh objek wisata lainya di Kabupaten Berau. Kalau dibiarkan terus seperti ini, tentunya akan sangat merugikan masyarakat dan pemerintah daerah," tandasnya.(M.S. Zuhrie)