Bupati Kampanyekan Negara Luar Berinvestasi Ramah Lingkungan

 

TANJUNG REDEB – Ditemui usai kembali dari menghadiri undangan sebagai salah satu panelis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Konferensi Perubahan Iklim Persekutuan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) Konferensi Pihak (COP) ke-22 yang digelar di Bab Ighi, Marrakech sejak tanggal 7 hingga 11 November 2016 lalu, Bupati Berau Muharram memiliki kebanggaan tersendiri setelah menyampaikan profil dan potensi yang dimiliki Kabupaten Berau kepada peserta yang hadir.

“Jadi, saya disana berkampanyelah bagaimana mencoba memaksimalkan peran negara-negara luar untuk berkontribusi di Kabupaten Berau,” ungkapnya saat ditemui beraunews.com, Selasa (22/11/2016) di Sekkab Berau, Jalan APT Pranoto.

Sebab, dinilai Bupati Muharram yang mewakili Pemkab Berau, konferensi yang dihadiri 197 negara dengan jumlah peserta kurang lebih 55 ribu orang itu, akan memiliki dampak yang nyata untuk Kabupaten Berau. Meski, tidak langsung terjadi dalam waktu singkat.

“Terkait dengan kunjungan saya di luar negeri, lebih kepada bagaimana mengkondisikan Indonesia, khususnya Kabupaten Berau mempertahankan hutan. Yang memang merupakan harapan negara-negara luar karena Indonesia dianggap sebagai negara yang berperan sebagai paru-paru dunia,” ujarnya.

Mengingat perubahan iklim yang terjadi telah menjadi isu dunia yang harus diantisipasi oleh seluruh negara di dunia, khususnya negara-negara industri yang menghasilkan emisi gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) dan gas lainnya.

Berdasarkan hasil penelitian, kata Muharram, para ilmuwan memperkirakan, selama pemanasan global, belahan bumi utara (northern hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil.

“Ketika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan yang dulunya itu daratan menjadi laut sehingga seluruh negara yang menyakini hasil kajian ini, berusaha untuk memaksimalkan produksi oksigen. Kemudian, mengurangi produksi CO2 dan CH4, yang disebut dengan istilah gas rumah kaya,” katanya.

Bagi Indonesia, khususnya Kabupaten Berau yang memiliki hutan dengan kondisi masih relatif baik, tambah Muharram, tentu akan menjadi tumpuan negara-negara di dunia untuk dapat terus memproduksi Oksigen (O2). Pemkab Berau pun komitmen untuk mempertahankan kondisi hutan yang ada.

“Kita mengkampanyekan komitmen untuk mempertahankan hutan dengan catatan sejahterakan rakyat kita. Karena rakyat yang ada disekitar hutan tidak akan rela, itu hutan tumbuh dengan baik kalau dia lapar,” tambahnya.

Untuk mempertahankan kondisi hutan yang selama ini masih baik, jelas Muharram, negara-negara di dunia yang memiliki industri dan menghasilkan emisi gas kaca, tentu harus mendukung Kabupaten Berau dalam berperan sebagai paru-paru dunia. Terlebih, dalam mensejahterakan masyarakat Kabupaten Berau.

“Anda juga makmur, kami juga makmur. Maka yang saya kampanyekan disana adalah bagaimana seluruh desa-desa yang masih ada hutan dengan baik, kami ingin mengundang anda (negara-negara industri-red) untuk berkontribusi memperbaiki kesejahteraan hidup mereka. Bahkan, kalau boleh menciptakan basic ekonomi permanen diseluruh desa itu sehingga hutan tidak terganggu,” jelasnya.

Jika negara-negara industri tidak dapat berkontrubusi dalam mensejahterakan masyarakat Berau, diyakini Muharram, dirinya tidak bisa menjamin hutan akan aman dari penebangan hutan atau pembalakan liar.

“Nah mereka inilah yang serius, ada dari Prancis, ada dari Jepang yang merespon. Ada misalnya contoh dari Prancis, dia akan mencoba mengintegrasikan antara listrik, perkebunan, pertanian dan peternakan karena rupanya 3 unsur ini bisa dikembangkan kalau punya listrik. Listrik komunal namanya, yang berbasis tenaga surya,” ujarnya.

Selain itu, tambah Muharram, dukungan juga datang dari negara Jepang. Pihak negara Jepang akan membantu dalam hal bagaimana memanfaatkan lahan-lahan pasca tambang. Termasuk, negara Korea Selatan dan China yang akan investasi juga di bidang kelistrikan tenaga surya.

“Memang saya mengamati dalam pertemuan itu, hampir seluruh negara kiblatnya ke depan terkait dengan energi itu hanya ada 3, yaitu tenaga air, tenaga surya dan tenaga angin,” tutupnya.

Dalam pertemuan itu, Bupati Muharram juga menyempatkan saling berbagi kartu nama dengan peserta konferensi yang hadir.(Andi Sawega)