Bupati : Biaya Energi Baru Terbarukan Lebih Murah

 

MAROKO – Konferensi lklim PBB di Maroko, ternyata tidak hanya dimanfaatkan Bupati Berau, Muharram untuk mempresentasikan tentang kiprah Berau terkait perubahan iklim selama ini. Namun juga untuk memperluas wawasan dalam pengembangan energi ke depan. Salah satu yang dikunjungi Bupati adalah presentasi yang dilakukan secara dadakan Aliansi Energi terbarukan Afrika (AREI) dalam membahas energi baru terbarukan. Untuk diketahui, aliansi tersebut beranggotakan negara-negara di Afrika.

Berdasarkan data dari AREI, negara-negara di Afrika, 5 tahun terakhir memiliki pertumbuhan ekonomi pesat. Sebut saja negara Ethiopia, Mozambique, dan Tanzania berada pada 5 besar negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia setelah China dan India. Bahkan dari 10 negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi selama periode 2010-2015, ada 7 negara tertinggi pertumbuhan ekonominya berasal dari benua Afrika. Untuk memenuhi target pertumbuhan tersebut, negara Afrika memerlukan pasokan energi yang cukup besar guna menudukung kebutuhan.

Dalam sesi presentasi bertajuk The Africa Renewable Energy Initiative tersebut itu disebutkan, energi masa depan bagi dunia adalah energi terbarukan yang akan dikuasai oleh energi dari surya dan angin. Menurut AREI, ada banyak faktor yang akan membuat masyarakat dunia beralih dari energi migas menjadi energi terbarukan. Seperti dampak pencemaran lingkungan yang lebih rendah dibandingkan dari bahan bakar fosil.

Disamping itu, ternyata energi baru terbarukan memiliki efesiensi biaya yang relatif rendah dibandingkan energi dari bahan bakar fosil. Seperti contoh efisiensi biaya di Afrika Selatan yang harga listrik dari energi surya sebesar USD 26 cent/kWH pada tahun 2011 dan turun menjadi USD 4,4 cent/kwH. Bandingkan dengan listrik dari batubara yang dihargai sebesar USD 7,4 cent/kWH.

“Jadi dimasa mendatang, harga listrik dari energi terbarukan akan semakin murah lagi dengan temuan tekonologi yang lebih maju,” ungkap Muharram.

Orang nomor satu di Kabupaten Berau itu juga sempat berdiskusi dengan Jesicca Bezolles yang merupakan Penasehat Menteri Lingkungan Hidup Gabon. Ia menyampaikan, peluang pengembangan energi surya di Indonesia bisa jadi sangat luar biasa. Apalagi menurutnya, Indonesia sangat berpotensi karena mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Selain itu, terkait biaya juga energi matahari terhitunga sangat murah. Diperkirakannya, biaya investasi untuk membangun pembangkit listrik hanya sekitar USD 1 juta untuk 1 MW.

“Tapi Jessica berpendapat, biaya ini sangat tergantung dari banyak faktor dan bisa berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya. Artinya inovasi ini perlu perencanaan yang matang,” bebernya.

 

Tidak hanya Jessica, Muharram juga sempat berdiskusi dengan Bagus Hendraning selaku Counselor Economic Affairs, dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Maroko di Kota Rabat. Maroko sendiri merupakan negara Afrika dengan ekonomi terkuat nomor 5 di Benua Afrika. Menurut Bagus, saat ini Pemerintah Maroko tengah mengembangkan pembangit tenaga surya terbesar di dunia dengan proyek Noor 1, Noor 2 dan Noor 3 yang akan dibangun bertahap dan diharapkan dapat menyediakan energi listrik sampai 150 ribu MW.

Direncanakan pembangkit listrik tenaga surya ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga untuk beberapa negara tetangga Maroko. Untuk memenuhi ambisi ini, lanjut dia, Pemerintah Maroko telah menjalin kerjasama dengan Prancis yang menyediakan teknologi dan bantuan teknis lainnya.

“Pembelajaran dari negara-negara Afrika ini tentu merupakan input penting dalam strategi pengembangan energi di Indonesia, khususnya Kabupaten Berau. Penyediaan energi yang murah dan mudah, sangat penting dalam pembangunan Indonesia agar negeri ini mampu bersaing dalam meningkatkan ekonomi kedepannya,” pungkasnya.(Hendra Irawan)