Dituding Enggan Antar Jenazah Bayi Gunakan Ambulan, Ini Penjelasan Lengkap Direktur RSUD

TANJUNG REDEB – Komentar pedas salah seorang keluarga bayi meninggal yang diantar ke rumah duka menggunakan sepeda motor melalui beraunews.com, langsung diklarifikasi Direktur RSUD dr. Abdul Rivai, Nurmin Baso Mandandan, Minggu (13/11/2016).

Ia menjelaskan, apa yang disampaikan pihak keluarga Mirna yang merupakan ibu bayi tersebut hanyalah kesalahpahaman. Karena menurutnya, yang terjadi di lapangan tidak seperti tudingan yang disangkakan. Lebih lanjut dikatakannya, sesaat sebelum bayi pulang dengan menggunakan sepeda motor, salah seorang perawat yang berjaga sempat menanyakan kepada pihak keluarga, apakah bayi tersebut akan dibawa pulang dengan ambulan.

Memang diakuinya, pihak keluarga yang sedang berada di dalam ruangan sempat menanyakan perihal biaya tarif ambulan. Namun perawat tersebut mengatakan, tidak mengetahui pasti berapa tarif tersebut, ia hanya memperkirakan antara Rp50 ribu sampai dengan Rp100 ribu saja. Bahkan, perawat itu juga telah menganjurkan untuk menanyakan langsung kepada sopir ambulan, guna kepastian tarif. Untuk diketahui, untuk seluruh tarif yang ada di RSUD, termasuk tarif ambulan dan mobil jenazah sudah diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 21/2011.

“Saat itu, keluarga pasien tadi keluar ruangan dan merundingkan dengan pihak keluarga yang ada di luar ruangan. Bagaimana hasil dari perundingan itu kita tidak tahu, apakah tidak ada uang atau bagaimana. Kemudian masuk lagi ibu yang berbeda, dengan mengatakan ‘ya sudah kami bawa saja bayinya naik motor’ kata ibu itu. Jadi si keluarga ini tidak pernah sampai ke sopir ambulan,” terangnya kepada beraunews.com.

BACA JUGA : Astaga!!! Tak Bisa Bayar Ambulan, Terpaksa Bawa Pulang Jenazah Anak Naik Motor

Guna meluruskan keadaan, pihaknya juga sempat menggelar pertemuan dengan sejumlah LSM dan pihak keluarga Mirna, Sabtu (12/11/2016) kemarin. Dalam pertemuan itu, pihak keluarga yang berada di rumah sakit mengungkapkan, saat melakukan perundingan waktu itu mereka tidak memiliki uang untuk menyewa mobil ambulan.

“Seharusnya kan, pihak keluarga ini menyampaikan ke perawat, dan perawat menyampaikan ke sopir ambulan. Apalagi ibu (Mirna-red) ini sebenarnya Jamkesda, itu tidak perlu bayar. Jangan kan bilang ke Gunung Tabur, ke Talisayan saja sering mengantar tidak dibayar, kalau paketnya itu Jamkesda,” ujarnya.

 

Untuk itu ditegaskannya, tudingan yang dialamatkan salah seorang pihak keluarga tersebut tidaklah benar. Apalagi, yang bersangkutan pada waktu itu sedang tidak berada di rumah sakit.

“Nah mungkin melihat Mirna bersama keluarga lain membawa jasad bayi menggunakan motor, tanpa tanya dulu langsung memposting ke media sosial. Jadi kemungkinan besar antara Ibu Laila dengan pihak keluarga yang ada di rumah sakit ini miss komunikasi,” bebernya.

BACA JUGA : Bawa Pulang Jenazah Anak Naik Motor, Ketua DPRD : Rumah Sakit Harus Kedepankan Rasa Prikemanusiaan

Disamping itu, pihaknya juga sempat mendatangi pihak keluarga Mirna yang berada di Gunung Tabur saat postingan komentar salah seorang keluarga tersebut beredar di media sosial WhattApp. Dirinya juga langsung menghubungi koordinator sopir ambulan untuk memastikan tudingan tersebut.

“Setelah baca dari media sosial, saya langsung telepon perawat yang saat itu jaga, dan koordinator sopir. Mereka sama-sama mengatakan tidak ada permintaan ambulan dari pihak keluarga. Nah, bahkan saat perawat kami ke rumah keluarga dan bertemu, mereka juga tidak mempersoalkan itu,” ujarnya.

Untuk mencegah hal tersebut kembali terjadi, pihaknya akan melakukan sosialisasi ke suluruh petugas-petugas di RSUD, jika ada pasien masuk program jamkesda selama tahun 2016 ini tidak akan bayar. Disamping itu, pihaknya juga berharap hal tersebut untuk tidak dibesar-besarkan.

“Karena pos anggarannya sudah ada, semoga saja tahun depan juga sudah ada anggarannya. Untuk segi pelayanan akan kita selalu berupaya untuk ditingkatkan,” pungkasnya.(Hendra Irawan)