Antisipasi Konflik Sosial, Pemkab Berau Kumpulkan Camat dan Kakam

 

TANJUNG REDEB – Pemkab Berau menggelar rapat koordinasi dalam mengantisipasi permasalahan sosial yang dapat berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan, Rabu (2/11/2016) Pukul 14.00 Wita, di Balai Mufakat.

Dalam acara itu, selain dihadiri Bupati Berau, Muharram, unsur Polri, dan TNI. Bupati juga mengumpulkan seluruh camat, dan kepala kampung se-Kabupaten Berau. Pada rapat tersebut, Bupati berpesan kepada seluruh elemen masyarakat serta aparat keamanan, untuk selalu menjaga kerukunan berbangsa dan bernegara.

Apalagi saat ini dikatakannya, keamanan dan ketertiban sudah mulai terancam dengan timbulnya berbagai peristiwa yang dapat mengganggu stabilitas keamanan di Kabupaten Berau. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini, terkait isu sara yang menjadi topik hangat di sebagian nusantara.

Terlebih di Kabupaten Berau sendiri beberapa waktu lalu, sempat diamankan seorang pelaku penistaan agama. Untuk itu dirinya mengingatkan, kepada masyarakat untuk tidak sekali-kali menyinggung, atau menggunakan kata-kata yang bermuatan unsur Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Apalagi sampai mendiskriminasikan aliran kepercayaan tertentu.

Disamping itu, Kabupaten Berau memiliki penduduk yang beragam, mulai dari suku, dan adat budaya. Ia menegaskan kepada masyarakat, untuk tidak meninggi-ninggikan suku dihadapan suku lain, serta merasa yang paling hebat. Hal itu menurutnya, sangat berpotensi menimbulkan konflik, dan jelas bertentangan dengan Pancasila.

“Jelas meninggikan suku, dan menyebut agama kita paling benar sendiri, dan agama lain salah tidak sesuai dengan idiologi Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Marilah kita satu padu, bersama-sama membangun Berau menjadi lebih baik. Dari pada harus membuang energi, untuk ribut dengan sesama saudara,” ungkapnya dalam pidatonya.

Pihaknya juga berpesan kepada camat, maupun para kepala kampung, untuk senantiasa mengingatkan masyarakatnya tentang pentingnya sikap toleransi, dan saling menghargai sesama warga yang berbeda suku, dan kepercayaan.

“Kepala kampung adalah ujung tombak di lapangan. Untuk itu kita ingin selalu memberikan pemahaman yang baik tentang pentingnya saling menghormati kepada sesama masyarakat. Karena hal ini perlu dicegah sedini mungkin,” katanya.

Tak itu saja, dirinya juga menyinggung terkait rencana akan dilakukannya aksi damai, yang bakal dilakukan pada unjuk rasa besar-besaran pada 4 November mendatang. Pihaknya mengimbau, kepada setiap ormas untuk melakukan aksinya dengan tertib, dan tidak menimbulkan aksi anarkis.

“Meskipun aksi damai hanya dilakukan sebagian warga Berau pada 4 November mendatang, saya harap untuk tidak membuat orasi yang bermuatan unsur sara, dan jangan membuat aksi anarkis. Kami akan pantau terus kegiatan itu,” pesannya.(Hendra Irawan/M.S. Zuhrie)