Kasus Pencabulan Talisayan, BPPKB Gelar Sosialisasi Pergaulan Bebas

 

TANJUNG REDEB – Kasus pencabulan yang terjadi di Kecamatan Talisayan membuktikan masih adanya pergaulan yang salah dan berdampak pada perilaku menyimpang hingga perbuatan seks bebas dikalangan remaja. Hal ini perlu diantisipasi sebelum terjadi banyaknya generasi muda yang rusak akibat pergaulan bebas.

BACA JUGA : Turun Sekolah Malah Digauli

Menurut Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Berau, Wiyati, pihaknya sudah memiliki program dan sudah menjalankan sosialisasi di daerah pesisir terkait bahanya narkoba maupun pergaulan yang salah. Namun hal tersebut tidak bisa berjalan baik tanpa ada dukungan orang tua untuk melakukan pengawasan.

"Kami kemarin juga baru melaksanakan kegiatan disana (Pesisir Selatan-red) kami juga sudah bentuk beberapa PIK (Pusat Informasi Konseling) di beberapa sekolah untuk mengantisipasi terjadinya pergaulan yang salah terhadap remaja," ungkapnya kepada beraunews.com, Minggu (23/10/2016).

Adanya faktor lain yang sulit diawasi adalah sosial media dan ruang publik lain di internet. Pasalnya, tak jarang banyak gambar maupun video yang tidak selayaknya dilihat oleh remaja beredar. Dan masa-masa pertumbuhan remaja merupakan masa dimana mereka banyak ingin tahu sesuatu dan itu yang membahayakan.

"Massa mereka ini, masa-masa ingin tahu, jika kita tidak awasi di sosial media mereka akan penasaran melihat gambar ataupun video yang kerap muncul seperti layaknya iklan," ujarnya.

Wiyati menambahkan, pihaknya juga sudah mensosialisasikan terkait pergaulan yang baik atau pun tidak kepada remaja di kawasan pesisir dan diharapkan para remaja bisa menjaga dan mensosialisasikan kembali kepada rekan-rekannya yang lain.

"Memang belum merata, tapi upaya kita akan tetap lakukan agar generasi di kawasan tersebut berkualitas," bebernya.

Wiyati berharap, PIK yang ada di kecamatan tersebut bisa menjadi wadah untuk merubah perilaku buruk para remaja yang ada dan menjadi wadah untuk menciptakan generasi berkualitas dengan pengawasan dan dampingan para orang tua mereka.

"Harapan kami tetap terbaik untuk para remaja, dan jika ada kasus seperti ini mungkin lebih baik tidak terekspos media khawatir berdampak buruk pada si anak, karena masa depan si anak masih panjang dan kami wajib melindungi si anak dari hal-hal terburuk," pungkasnya.(Dedy Warseto)