Bupati Hadiri Selamatan Panen Rakyat Kampung Merancang Ilir

 

GUNUNG TABUR – Guna mengucapkan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, masyarakat Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur, menggelar syukuran sekaligus pesta panen, Minggu (16/10/2016) pagi tadi.

Dimana, rasa syukur masyarakat atas panen ini digelar dengan acara selamatan kampung yang dirangkai dengan kesenian Mappadendang dan dihadiri seluruh komponen masyarakat.

Terlihat, Bupati Berau Muharram bersama pejabat dilingkungan Pemkab Berau turut hadir dan mengikuti prosesi syukuran panen yang rutin digelar masyarakat Merancang Ilir, pasca panen besar ini.

Dalam kesempatan itu, Bupati mengucapkan rasa syukur atas panen melimpah yang telah dicapai masyarakat Kampung Merancang Ilir. Pasalnya, kampung ini merupakan salah satu daerah sentra pertanian lada dan padi, yang cukup besar di Bumi Batiwakkal.

“Kita menyampaikan rasa syukur atas hasil panen yang kita terima,” ucap Bupati.

Bupati juga memberikan semangat kepada warga Merancang agar terus mengembangkan hasil produksi unggulan padi sawah dan lada. Potensi pertanian di Kampung Merancang Ilir masih memiliki prospek yang begitu besar kedepannya. Terlebih, dengan ketekunan sebagai petani, pasti akan memberikan dampak positif bagi perekonomian warga.

“Saya dapat kabar di Merancang Ilir ini bahwa menolak bantuan beras miskin atau raskin, ini menunjukan bahwa warga disini sudah makmur,“ ungkapnya.

Selain sudah menolak raskin dengan alasan untuk bisa disalurkan kepada warga lainnya yang memang benar-benar membutuhkan, ditambah Muharran, pemerintah kampung juga telah menolak bantuan rumah layak huni yang diberikan pemerintah daerah. Bahkan, yang lebih membanggakan lagi, warga Merancang Ilir telah mampu membeli kendaraan roda 4 secara tunai alias tidak ada yang kredit.

“Semuanya cash, ini luar biasa sekali, sampai ada yang sudah beli dua mobil tapi tidak tahu menyetir. Artinya, ekonomi masyarakat Merancang Ilir ini sudah sangat baik,” tambahnya.

Dengan produksi padi yang baik, diharapkan Bupati, agar lahan-lahan potensial yang sudah dimiliki dengan baik ini untuk tidak dialihkan ke lahan pertanian lain. Namun harus terus dioptimalkan dengan produksi lada dan padinya yang sudah terkenal.

“Kami meminta agar lahan-lahan potensial kita ini digarap optimal dan tidak dialihkan ke yang lain,” harapnya.

 

Pengembangan komoditas lada, dikatakan Bupati, merupakan salah satu komoditas unggulan yang hasilnya juga dapat memuaskan petani. Dengan pengembangan komoditas yang tidak memerlukan lahan yang luas. Namun dengan melakukan perlakukan budidaya dengan baik, maka hasil produksi yang diterima petani akan sangat besar.

Pembangunan pertanian Kampung Merancang Ilir ini juga telah didukung dengan pemenuhan infrastrukturnya. Seperti, pembangunan jalan usaha tani yang dibangun masyarakat secara swakelola, dinilai Muharram, merupakan dukungan dalam pembangunan pertanian.

“Disamping memiliki potensi areal persawahan yang luas, Merancang juga ditunjang oleh bendungan yang sangat luas dan mampu untuk mengairi sawah yang ada,” katanya.

Bupati juga berpesan kepada masyarakat Merancang Ilir untuk selalu bersyukur atas atas limpahan rahmat yang diberikan Allah SWT melalui hasil pertanian dan perkebunan. Rasa syukur itu, dengan selalu bersentuhan dengan masjid untuk melaksanakan ibadah dan berdoa atas rasa syukur, sehingga hasil pertanian setiap tahun akan terus menerus berlimpah.

“Allah SWT menjamin, Rasul menjamin dan saya menjamin, kalau kita sering ke masjid, Insya Allah akan berlimpah terus hasil panen kita,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Merancang Ilir, M. Rizal mengungkapkan, selamatan kampung ini merupakan bentuk syukur atas hasil panen yang diterima masyarakat. Saat ini pengembangan budidaya padi di Merancang sudah bisa dinikmati masyarakat dengan dua kali panen dalam setahun.

“Saya ingin sampaikan juga pak Bupati, tahun ini kami mendapatkan menambahan percetakan sawah seluar 167 hektar. Ini merupakan peralihan dari percetakan sawah di Kecamatan Segah dan Insya Allah kita juga akan mendapatkan lagi dari pemerintah pusat,” pungkasnya.

Seperti diketahui, acara Mappadendang dilaksanakan merupakan kebiasaan Bugis sejak lama, yakni menumbuk padi dalam lesung panjang beramai-ramai. Ayunan alu (alat penumbuk) dan lesung terangkai menjadi sebuah nada musik yang diiringi teriakan-teriakan warga lainnya. Bahkan, Bupati bersama kepala kampung ikut mengalunkan nada dalam ayunan alu bersama-sama ibu-ibu yang bertugas melakukan ritual mappadendang ini.(Andi Sawega)