Tak Lapor Pinjam Buku Perpustakaan, Ini Bakal Terjadi

 

TANJUNG REDEB – Perpustakaan sangat rawan terhadap tindakan penyalahgunaan koleksi yang dimilikinya. Hal itu disebabkan salah satunya oleh sistem layanan perpustakaan yang digunakan.

Umumnya perpustakaan, termasuk Kantor Perpustakaan Daerah Berau menyediakan layanan dengan sistem terbuka. Pada sistem tersebut, pengguna dapat secara langsung memilih bahan pustaka yang diinginkan pada rak tempat jajaran koleksi diletakkan.

Hal ini dapat mendorong terjadinya penyalahgunaan koleksi perpustakaan oleh pengguna. Seperti, pencurian (theft), penyobekan (mutilation), peminjaman tidak sah (unauthorized borrowing), dan vandalisme (vandalism).

Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko tindakan penyalahgunaan koleksi perpustakaan, Kantor Perpustakaan Daerah Berau menerapkan sistem keamanan berbasis IT. Hal ini diungkapkan Kantor Perpustakaan Daerah Berau, Rabiatul Islamiah melalui staf Pelayanan, Anwar yang ditemui beraunews.com, Jum’at (14/10/2016).

“Pintu ini, pertama tujuannya untuk keamanan terhadap koleksi yang kita punya. Banyak pengunjung maaf (bukan mencuri sih), tapi tanpa melalui proses peminjaman,” ungkapnya disela-sela merakit pintu keamanan tersebut.

 

Penggunaan teknologi itu, dijelaskan Anwar, diterapkan pada setiap koleksi perpustakaan. Dimana, setiap pengunjung perpustakaan diharuskan melewati pintu dengan sensor yang dilengkapi dengan teknologi barcode atau radio frequency identification (RFID).

“Disamping itu, pintu ini juga bisa kita peruntukkan untuk proses peminjaman. Dimana, memudahkan dalam pelayanan perpustakaan untuk mempercepat proses (peminjaman-red) nya, kalau manual mungkin agak lambat,” jelasnya.

Namun, pengunaan teknologi itu, ditambah Anwar, juga memiliki sedikit kendala teknis. Seperti, harus disupport dengan energi listrik yang memadai. Sementara, di Kabupaten Berau sendiri terkadang sering terjadi pemadaman bergilir, yang dapat juga menyebabkan rusaknya perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) dari pintu keamanan tersebut.

“Cuma walaupun kita sudah menggunakan sistem IT, kita tetap back-upnya dengan sistem manual,” tambahnya.

 

Terkait penyalahgunaan koleksi perpustakaan oleh pengguna yang kerap terjadi di Kantor Perpustakaan Daerah Berau, dinilai Anwar, sebesar 20 persen disebabkan karena lambatnya pengembalian koleksi perpustakaan yang dipinjam serta ada yang kembali dalam keadaan rusak. Bahkan, ada juga yang hilang sama sekali.

“Apakah itu pengembaliannya yang telat, atau mungkin hilang, kita tidak bisa langsung menganggap itu hilang, mungkin proses kembalinya yang lambat. Tapi, dengan adanya proses ini, mudah-mudahan bisa terdeteksi yang tanpa melalui proses peminjaman tadi,” pungkasnya.(Andi Sawega)