Jawab Keluhan Masyarakat, PDAM Tirta Segah Gelar Temu Pelanggan

 

TANJUNG REDEB – Bertempat di Balai Kampung Merancang Ulu, Senin (10/10/2016), Direktur PDAM Tirta Segah, Adief Mulyadi bersama manajemen menggelar temu pelanggan.

Temu pelanggan ini dimaksudkan untuk menjawab beberapa pertanyaan masyarakat dan aparatur kampung terkait pelayanan PDAM, khususnya bagi kampung yang distribusi airnya melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Merancang, yakni Kampung Merancang Ulu, Merancang Ilir, Melati Jaya dan Batu-Batu.

Temu pelanggan tersebut dihadiri Kepala Kampung, Badan Permusyaratan Kampung (BPK) serta tokoh masyarakat di 4 kampung tersebut.

Dalam temu pelanggan tersebut, Syamrin, pengurus BPK Merancang Ulu, mengeluhkan kondisi meteran air yang rusak dan jadwal mengalir air yang tidak teratur.

Sementara, Iis Supriadi, salah satu warga Kampung Merancang Ilir, menyesalkan adanya biaya yang dibebankan untuk pelanggan. Pasalnya, menurut penjelasan pihak kontraktor yang memasang sambungan diketahui jika pemasangan tersebut tidak dipungut biaya alias gratis.

Sedangkan Rasyono, perangkat Kampung Melati Jaya, mengeluhkan kondisi air PDAM yang terkadang masih berwarna kemerahan. Warga dan aparat kampung juga meminta ketegasan PDAM terkait pembayaran pemakaian air oleh masyarakat.

Untuk menjawab keluhan masyarakat kampung tersebut, Kepala Bagian Teknik PDAM Tirta Segah, Yan AT menjelaskan, selama ini masih ada beberapa meteran air pelanggan yang statusnya belum didaftarkan sebagai pelanggan PDAM, sehingga pihak PDAM tidak bisa melakukan perbaikan atau penggantian.

"Dari sisi operasional IPA, jadwal distribusi air dari IPA Merancang sebenarnya sudah teratur, namun karena masih banyaknya kebocoran pipa, maka distribusi air menjadi tidak dapat diarahkan sepenuhnya kepada masyarakat," jelasnya.

Terkait biaya yang dibebankan kepada pelanggan, Kepala Bagian Umum PDAM Tirta Segah, Syahril menjelaskan, biaya pemasangan sambungan rumah memang bersifat gratis karena dibebankan kepada anggaran proyek. Namun, untuk menjadi pelanggan PDAM, warga wajib membayar biaya administrasi dan biaya pendaftaran.

"Ketika warga tidak membayar biaya tersebut, maka PDAM tidak dapat memperlakukan warga sebagai pelanggan," katanya.

Menjawab keluhan terkait kondisi air yang dialirkan, Kepala Sub Bagian Produksi PDAM Tirta Segah, Asra Syamsut mengatakan, kondisi air baku yang bersumber dari Waduk Merancang memang memerlukan sistem pengolahan yang cukup berat. Sebab, kondisi air baku Waduk Merancang sangat dipengaruhi oleh zat warna lignin yang dihasilkan tunggul atau sisa-sisa pohon kayu yang terendam dan menyebabkan warna air menjadi coklat. Ditambah lagi, dengan aktivitas masyarakat yang melakukan pencucian lada di dalam waduk.

"Pihak PDAM telah berupaya untuk menghasilkan air yang sesuai dengan standar air bersih, yakni dengan menggunakan bahan polimer. Bahan ini dipasaran dibeli dengan harga cukup mahal dibandingkan poli aluminium klorida yang biasa digunakan PDAM untuk IPA di Tanjung Redeb. Sementara disisi lain, tarif air yang dikenakan kepada masyarakat termasuk tarif sosial dan jumlah pelanggannya baru mencapai sekitar 300 pelanggan. Ini tentu masih jauh target ideal pelayanan sebanyak 2.000 pelanggan," ucapnya.

Dalam temu pelanggan tersebut, Direktur PDAM Tirta Segah, Adief Mulyadi memaparkan, selain mengemban misi pelayanan masyarakat, PDAM juga harus berupaya mendapatkan pendapatan dan tidak tergantung kepada pemerintah.

Oleh karenanya, pihaknya mengajak kepala kampung dan perangkat kampung yang hadir untuk dapat mendukung pemeliharaan jaringan pipa dan pembayaran bagi warga yang tidak mampu dengan memanfaatkan Alokasi Dana Kampung (ADK). Namun, sepanjang hal tersebut diperbolehkan sesuai aturan yang berlaku. 

"Kita tidak bisa hanya bergantung kepada pemerintah saja, maka untuk kelancaran semua kita sangat berharap pemerintah kampung bisa mendukung lewat ADK," tuturnya.(Marta)