Soal Kamus Digital Bahasa Banua, Ini Kata Disdik dan Disbudpar

TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau harus berbangga karena telah memiliki kamus Bahasa Berau khusus bahasa Banua berbentuk aplikasi berbasis android yang bisa diunduh lewat handphone. Namun, kemunculan kamus digital ini ternyata tidak banyak diketahui oleh Pemkab Berau melalui SKPD terkait, seperti Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

Padahal, terlihat jelas logo Pemkab Berau tercantum pada tampilan awal ketika masuk dalam aplikasi tersebut. Selain itu, gambar penyu dan Masjid Agung Baitul Hikmah pun terlihat.

Hal ini seperti yang disampaikan Kepala Disdik, Susila Harjaka. Dikatakannya, hingga saat ini, pihaknya belum pernah menerima pemberitahuan maupun klarifikasi terkait pembuatan dan penerbitan kamus digital tersebut dari EnterWind selaku pihak pengembang.

“Dinas Pendidikan sampai saat ini belum pernah menerima pemberitahuan (klarifikasi) terkait adanya kamus Berau, yang bisa diunduh lewat handphone tersebut,” ujarnya saat ditemui beraunews.com di Kantor Disdik didampingi Kepada Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdas), Suprapto.

 

Untuk itu, ditambah Suprapto, pihaknya akan segera mencari tahu tentang kamus digital bahasa Berau tersebut. Mulai dari penyusun, asal produk dan sebagainya.

“Belum tahu sama sekali, kita akan cari tahu dulu. Siapa penyusunnya, asal produknya dan sebagainya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Disbudpar, Rohaini yang ditemui beraunews.com di ruang kerjanya. Pihaknya juga tidak pernah menerima pemberitahuan terkait penyusunan dan pembuatan kamus tersebut.

Berdasarkan pengetahuannya, memang pernah ada Program Pengembang Bahasa Banua yang direalisasikan dalam bentuk buku cetak atau kamus. Program itu dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Kaltim, Samarinda sekitar tahun 2007 sampai tahun 2008 lalu.

“Berdasarkan pengalaman yang dulu dan saya pernah di Dinas Pendidikan, ini sudah ada kamusnya,” ujarnya.

BACA JUGA : Kini Belajar Bahasa Banua Bisa Lewat HP

Dijelaskan Rohaini, program tersebut juga telah melewati proses-proses yang panjang, seperti penelitian langsung oleh tim Balai Bahasa Provinsi Kaltim.

“Kita juga diundang pada saat itu, saya sempat mengikuti dua kali seminar tentang bahasa Berau ini. Mereka juga minta pendapat pada saat pertemuan itu,” jelasnya.

Dalam seminar tentang bahasa Berau itu, ditambah Rohaini, selain melibatkan unsur pemerintahan, juga turut dilibatkan para tetua orang Berau dari suku Banua. Seperti, Ahmad Maulana (Alm) dan beberapa orang suku asli Banua yang berdomisili di Samarinda.

“Itu melibatkan bukan saja kita dari pemerintah, tetapi mereka melibatkan orang-orang tua dulu. Jadi ada orang-orang tua asli Berau yang ada di dalam daerah (Kabupaten Berau-red) maupun luar daerah,” tambahnya.

 

Tetapi, dengan adanya kemunculanan aplikasi itu, Rohaini tetap mengapresiasi niatan baik pihak EnterWind tersebut. Meski, dalam pembuatan kamus bahasa itu seharusnya melalui proses panjang dan melibatkan banyak pihak yang memang tahu tentang bahasa Berau itu sendiri, sehingga tidak salah dalam penggunaannya. Baik, dalam penulisan, penggunaan maupun sejarah bagaimana bahasa Berau itu sendiri.

“Kalau kita sangat apresiasi yang seperti ini,” bebernya.

Terakhir, Rohaini menegaskan, pihaknya juga siap membantu pihak EnterWind terkait perbaikan dan penambahan kosakata yang ada dalam kamus digital tersebut, sehingga bahasa Ibu salah satu suku Berau ini dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat. Perbaikan dan penambahan ini bisa mengacu pada kamus yang ada sebelumnya.

“Rasanya saya ada kamusnya yang diberi. Kita masih cari kamus itu dan mudah-mudahan ini kita sesuaikan. Tapi tidak menjadi masalah yang ada di Play Store itu, kalau toh misalnya ada yang salah, ya kita perbaikilah,” pungkasnya.(Andi Sawega)