Rusianto : Raja Alam Harus Jadi Pahlawan Nasional Pertama Di Kaltim

 

TANJUNG REDEB – Dalam rangkaian upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb yang digelar setiap tahun di Lapangan Pemuda, Pemkab Berau kerap kali menampilkan tarian kolosal yang menggambarkan sejarah perjuangan Raja Alam dalam mengusir penjajah dari Bumi Batiwakkal.

Seperti diketahui, Raja Alam atau bernama lain Sultan Alimuddin, merupakan raja pertama di Kesultanan Sambaliung selama dua periode. Setelah sebelumnya Kesultanan Berau terpecah menjadi dua, yakni Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, akibat taktik pecah-belah penjajah Belanda. Raja Alam memimpin Kesultanan Sambaliung sejak 1810 sampai 1834 dan periode 1837 hingga 1844.

Pemkab Berau yang sebelumnya dipimpin Bupati Makmur HAPK pun pernah pernah melayangkan usulan agar Raja Alam bisa menjadi pahlawan nasional. Menurut Makmur HAPK saat itu, Raja Alam layak menjadi pahlawan nasional karena memiliki peranan penting dalam mengusir penjajah dari tanah Berau. Namun, hingga saat ini, status pengakuan sebagai pahlawan nasional tak kunjung diberikan kepada raja pertama Kesultanan Sambaliung tersebut.

Oleh karena itu, hal ini kembali mendapat perhatian anggota Komisi I DPRD Kaltim asal daerah pemilihan Bontang, Kutim dan Berau, Rusianto. Kiang (sapaan akrabnya) mengatakan, usulan pahlawan nasional untuk Raja Alam, yang sudah diabadikan menjadi Batalyon TNI di Kota Tarakan (Batalyon Infanteri Raider 613/Raja Alam), itu sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Namun hingga kini belum juga berhasil.

”Kami berharap usulan ini ditindaklanjuti dengan serius oleh Pemkab Berau. Kalau ada yang kurang, mari kita carikan solusinya. Termasuk, adanya dukungan dari kedua Kesultanan di Berau ini,” ujarnya saat diwawancarai ekslusif oleh beraunews.com, Jum’at (16/9/2016).

Perhatian ini, dijelaskan Kiang, didapatinya usai menghadiri upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb, Kamis (15/9/2016) kemarin. Ia mempertanyakan kelanjutan akan pengusulan Raja Alam sebagai pahlawan nasional tersebut. Terlebih, hingga saat ini di Provinsi Kaltim sendiri, belum ada pahlawan perjuangan yang diakui sebagai pahlawan nasional.

“Kalau dari kisahnya, Raja Alam juga dikenal sebagai pejuang yang tidak mau tunduk pada Belanda. Bukan dia pergi sembunyi saat para pejuang melawan penjajah Belanda,” jelasnya.

Raja Alam adalah putera Sultan Amiril Mukminin, Raja Berau ke-16. Ia menetap disungai Rindang, Kecamatan Talisayan karena istananya dihancurkan penjajah Belanda. Benteng pertahanan Raja Alam berada di wilayah Kecamatan Batu Putih. Ia memimpin pertempuran dari Tanjung Mangkaliat sampai Tanjung Karang Tigau. Bahkan, sebelum diusulkan menjadi pahlawan nasional, dikatakan Kiang, Raja Alam sudah lebih dahulu menerima Bintang Jasa Utama lewat SK Presiden nomor 77/TK/Tgl 13 Agustus 1999.

“Sudah pernah dilakukan penelitian juga oleh TNI, bahkan mengundang sejarawan nasional Anhar Gonggong agar usulan itu disetujui. Seminar pun pernah digelar. Sudah lebih dulu juga menerima Bintang Jasa Utama dari Presiden tahun 1999,” pungkasnya.(Andi Sawega)