Cegah Antrhax dan Brucellosis, Disnakeswan Lakukan Surveilans Pada Hewan Kurban

TANJUNG REDEB – Mencegah masuknya hewan kurban pembawa penyakit seperti antrhax dan brucellosis, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Berau, melaksanakan surveilans atau pengambilan sampel darah hewan kurban yang dijual masyarakat, Kamis (1/9/2016).

Dokter Hewan Disnakeswan Berau, Iwan Kadianto mengatakan, surveilans ini pertama kali dilakukan untuk mencegah masuknya antrhax dan brucellosis. Antrhax, tanpa di tes pun secara kasat mata sudah dapat diketahui, yakni apabila hewan tersebut mengeluarkan darah di bagian hidung, mulut serta anus. Sedangkan untuk pemeriksaan brucellosis harus dilakukan melalui pemeriksaan darah apakah mengandung bakteri brucella yang berbahaya atau tidak.

"Kami mencegah beredarnya hewan kurban berpenyakit, maka dari itu kami laksanakan uji sampel darah ini, dan dalam satu minggu hasilnya akan keluar. Jika ada yang positif langsung kami amankan hewan tersebut dengan cara disembelih dan dikubur," ujarnya.

Menurut Iwan, sapi yang terkena brucellosis masih aman dikonsumsi manusia, asalkan segera disembelih dan jeroannya di kubur. Berbeda dengan antrhax, apabila sapi tersebut terkena antrhax akan berpengaruh juga kepada manusia.

Proses penularan antrhax pada manusia terjadi bila manusia lakukan kontak langsung dengan spora antrhax yang ada di dalam tanah, pada tanaman ataupun produk-produk hewan yang terjangkit antrhax. Penularan juga terjadi melalui udara yang mengandung spora antrhax dan gigitan vektor atau pembawa kuman antrhax, misalnya lalat petak (Tabanus sp.) Tak heran para pekerja di sektor pengolahan kulit atau penjagalan liar rentan terhadap serangan penyakit ini.

"Apabila ada hewan terkena antrhax bisa berbahaya bagi manusia, dan apabila lambat penanganannya bisa menimbulkan korban jiwa, maka dari itu sebelum terjadi wajib kami atasi terlebih dahulu," jelasnya.

Iwan menambahkan, hingga saat ini di Berau masih belum ditemui hewan terkena antrhax, namun beberapa saat lalu sempat heboh ketika salah satu penjual hewan kurban melihat empat ekor kambing miliknya tewas mendadak, setelah dicek, perut kambing tersebut kembung, karena baru tiba di Berau sudah langsung diberi minum.

"Karena perbedaan suhu antara Sulawesi dan Berau. Selain itu, setelah kami cek perut kambing tersebut gembung, karena hewan baru sampai Berau langsung diberi minum, seharusnya diberi waktu 2 hari," tutupnya.(M.S. Zuhrie)