Kehilangan Anak Gara-gara Narkoba

TANJUNG REDEB – Bambang (47), mantan narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Tanjung Redeb hingga kini tak bisa melupakan kenangan pahit semasa dirinya mendekam di balik jeruji besi. Bagaimana tidak, akibat perbuatannya menjual narkoba jenis Sabu-Sabu, istri dan kelima anaknya hidup terlantar, bahkan ia terpaksa “kehilangan” kedua anaknya.

Kenangan pahit itu bermula saat rumah dan seluruh harta benda miliknya yang berada di Pasar Tudai Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara habis terbakar tahun 2010 lalu. Apalagi kala itu, penghasilannya sebagai buruh serabutan tak menentu. Dari situlah, muncul jalan pintas untuk terjun ke dunia hitam sebagai penjual narkoba.

Baru dua bulan menggeluti bisnis haram tersebut, Bambang pun di tangkap Polres Bulungan. Lantaran tertangkap inilah, ia menginjakkan kaki Berau (dititipkan di Rutan Klas IIB Tanjung Redeb-red) dan kemudian disusul oleh Isteri dan kelima anaknya.

Cerita kelam berlanjut setelah dirinya di vonis 4 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Redeb pada Juni 2011 lalu. Selama menjalani hukuman, ia mendapat remisi 1 tahun 7 bulan dan tepat bulan Oktober 2013, Bambang akhirnya dapat menghirup udara bebas dan kembali menatap dunia baru.

“Semenjak saya menjalani masa tahanan, isteri dan kelima anak saya terlantar. Bahkan, kedua anak saya terpaksa diserahkan ke orang lain, sebab saat itu istri saya sudah tidak sanggup lagi menanggung biaya hidup sehari-hari. Itu semua gara-gara perbuatan saya sendiri dan saya bersumpah tak akan mengulangi perbuatan terkutuk itu lagi,”ujarnya saat berbincang dengan beraunews.com, Selasa (26/7/2016).

Sementara itu, Samsiah (38), istri Bambang membenarkan jika semenjak suaminya di dalam tahanan, kedua anaknya terpaksa diasuh orang lain. Kala itu, dirinya tak punya pilihan lain, pasalnya selain tak sanggup lagi menanggung biaya hidup sehari-hari, dirinya bersama anak-anaknya harus hidup dengan menumpang di rumah orang lain, lantaran tak punya keluarga sama sekali di Berau. Namun, yang jelas dikatakan Samsiah, menyerahkan hak asuh kepada orang lain, merupakan hal yang teramat berat dilakukan

“Saat diambil hak asuhnya oleh perempuan lain, saat itu usia anak perempuan saya masih 3 bulan. Perempuan yang mengambil anak saya itu mengaku tinggal di Jalan Manunggal dan mengaku bekerja di lingkungan Pemkab Berau. Dia selalu mendatangi dan membujuk agar saya menyerahkan anak saya dengan selalu mengiming-imingi dengan uang, tapi saya tidak mau. Namun lantaran beratnya beban hidup, akhirnya anak saya terpaksa saya serahkan ke dia tapi saya bukan menjual anak saya,” ungkapnya sembari mengatakan jika anaknya yang satunya lagi meski sudah diasuh orang lain, namun masih sering ia jumpai.

Dirinya bersama suami terus berupaya ingin bertemu dengan anaknya itu, namun apa daya, perempuan yang mengasuh anaknya itu hingga kini tak diketahui berada dimana. Meski tanpa sengaja, dirinya pernah melihat perempuan itu, namun dia cepat pergi usai melihat dirinya.

“Tanpa sengaja orang itu pernah saya lihat dijalanan. Saat itu, saya berteriak, namun dia langsung bergegas pergi menghindar. Saat itu pun juga saya menangis,” tuturnya saat berbincang dengan beraunews.com di rumah Sunarti di Jalan Mangga III, Tanjung Redeb. Sunarti adalah orang yang membantu Samsiah bersama kelima anaknya memberi tempat menumpang hidup saat Bambang di penjara. Kini Samsiah bersama keluarganya, sudah menganggap Sunarti sebagai keluarganya.

Bambang bersama keluarga kini kembali tinggal di Kabupaten Bulungan dan fokus menjalani kehidupannya sebagai petani.

“Banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan usai menjalani masa tahanan, terlebih kini anak saya entah kemana akibat perbuatan saya sebagai penjual narkoba,” tutup Bambang seraya meneteskan air mata.

Dibalik cerita ini dapat kita jadikan pelajaran bagaimana kejamnya jika menjalani profesi yang dilarang hukum.(ea)