Berawal dari Menagih Janji, Rekening Malah Diblokir

 

TANJUNG REDEB – Kabar diblokirnya rekening beberapa guru yang terlibat dalam aksi protes guru beberapa waktu lalu, lantaran insentif yang telat dibayarkan hingga 4 bulan lamanya, juga berimbas di Kabupaten Berau. 2 guru SMA Berau yang tercatat namanya terlibat dalam aksi protes tersebut, memang merasakan kenahasan ini.

“Rekening kami memang diblokir. Yang diblokir adalah tunjangan TPP selama 4 bulan itu, sekitar Rp6 juta,” terang guru SMAN 5 Berau, Syahly Wardhana, ketika dikonfirmasi mengenai kebenaran pemblokiran rekening oleh beraunews.com, Rabu (24/05/2017).

Syahly menjelaskan, hingga hari ini pun rekening yang dimilikinya tersebut masih dalam keadaan terblokir.

“Saat saya mengunjungi Bank Kaltim Cabang Gunung Tabur, dari sana dapat keterangan bahwa benar pemblokiran dana tersebut dari pusat Samarinda,” bebernya.

Syahly mengaku jika ia belum mengetahui pasti penyebab dilakukannya pemblokiran dan penahanan insentif miliknya oleh Kepala Dinas Pendidikan Kaltim, Dayang Budiarti. Ia juga berpendapat jika pemblokiran ini merupakan salah satu bentuk intimidasi.

“Untuk penyebab pastinya saya juga masih belum tahu, malah saya ingin bertanya langsung kepada yang memblokir. Harapannya kepada si pemilik kebijakan, jika memang itu adalah hak kami, kenapa harus ditahan-tahan?,” tegasnya.

“Tetapi saya secara pribadi tidak masalah, karena dari awal saya sudah paham dengan konsekuensi yang ada. Dalam artian saya yakin bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur, siapapun yang ingin menutup pintu rezeki orang lain, tetapi ketika yang maha kuasa bertindak lain, maka tidak ada yang bisa mencegahnya. Saya hanya mengatakan kepada teman-teman sesama guru, bahwa ini hanyalah sebagai kekhilafan. Mungkin jika dikatakan sampai berdampak negatif kepada psikologis teman-teman, saya yakin tidak, karena saya yakin dengan adanya kasus ini mungkin teman-teman sesama guru dapat lebih solid lagi,” sambungnya.

BACA JUGA : Rekening Diblokir, Penggerak Aksi Guru Kaltim Terancam Tak Dapat Gaji

 


Senada dengan Syahly, Ahmad Mujahid juga mengungkapkan pendapat serupa.

“Iya memang diblokir, saat dilakukan print (cetak) di buku tabungan, saldonya ada tertera, tetapi saat di ATM, dana TPP tersebut tidak dapat ditarik. Jika dikatakan diblokir sebenarnya tidak, tetapi menurut bank Kaltim istilahnya dihold (ditahan), sehingga dana yang ada di buku tabungan ditahan,” ucap guru SMAN 8 Berau, Ahmad Mujahid, membenarkan.

“Jika dalam jangka waktu pendek sebenarnya saya tidak masalah, tetapi yang jadi permasalahan sekarang, kok kenapa rekening kami harus diblokir? Apakah lantas karena mengikuti aksi demo di provnsi kemudian meninggalkan tugas mengajarnya di sekolah, terus menjadi kesalahan lantaran melalaikan tugasnya? Tentulah tidak serta merta diblokir juga kan,” terangnya.

Mujahit menegaskan, jika seandainya tunjangan TPP itu dari bulan pertama cair dengan lancar, kemudian gaji guru juga tidak bermasalah, jelas guru-guru yang terlibat tidak mungkin akan melakukan aksi tersebut.

“Aksi ini juga bukan aksi tanpa sebab akibat, aksi ini hanyalah kelanjutan dari aksi pada tanggal 2 Mei, karena pada tanggal 2 Mei kita minta sebuah kejelasan, kemudian keluar surat pernyataan yang ditandatangani Kepala Dinas Pemprov kemudian Asisten 2, Meliani lalu Kepala BPKAD (Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah) bahwa akan dicairkan pada tanggal 19 Mei, tapi nyatanya melenceng,” tegas Ahmad.
 
Ditambahkannya, aksi ini hanyalah sebuah pertanyaan tentang surat pernyataan yang menjanjikan pada tanggal 19 Mei, tetapi kenapa pada tanggal tersebut, dana TPP belum juga cair.

“Kan aneh saja jika dikatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk dari kesalahan guru,” sesalnya.

Jika misalnya pemblokiran ini merupakan salah satu cara pembinaan guru, sepertinya tidak pas, dan kenapa harus sampai memblokir rekening?(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia