Prestasi dan Keterampilan SLB Tak Kalah Hebat dengan Sekolah Umum Lainnya

 

TANJUNG REDEB – Tidak banyak yang tahu jika SLB (Sekolah Luar Biasa) di Kabupaten Berau banyak menorehkan prestasi dari event-event non akademik, mulai tingkat umum hingga tingkat provinsi, hal ini tercermin dari banyaknya jejeran piala-piala yang tersusun rapi di ruang kepala sekolah SLB tersebut.

“Event-event SLB ini beda dengan sekolah-sekolah pada umumnya, karena yang menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus di sini adalah PKLK (Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus). Anak-anak di sini, tahun lalu, pernah mengikuti event bulu tangkis hingga sampai ke tingkat nasional,” ucap Kepala Sekolah SLB Masluhi, saat ditemui beraunews.com, Senin (08/05/2017).

Selain itu, di tahun 2017 ini Masluhi berkata bahwa murid-murid SLB sendiri akan mengikuti tiga kegiatan yaitu lari, menjahit, dan MTQ pada tingkat provinsi. Kejuaran lari dan bulutangkis adalah salah satu sumber prestasi yang paling banyak diikuti SLB ini, dan bersaing dengan SLB lainnya seluruh Kalimantan.

Murid-murid yang berkebutuhan khusus di SLB, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau ini, selain berprestasi dalam bidang olahraga, ternyata juga mempunyai skill dalam membuat suatu kerajinan tangan seperti membuat keset, keterampilan menjahit, memasak, ngelas suatu barang, bahkan juga melukis.

“Di SLB ini muridnya memang kita bimbing untuk suatu waktu dapat mengikuti event-event ataupun keterampilan lainnya. Terlebih di SLB ini sendirikan ada TK, SD, SMP, bahkan SMA, nah yang SMA itu rata-rata cenderung kepada keterampilan,” sambungnya.

 

Kepala Sekolah SLB Masluhi, juga mengungkapkan, anak-anak yang berkebutuhan khusus itu terkadang dipandang anak yang tidak berdaya, anak yang tidak mampu, anak-anak yang disepelekan, tetapi ternyata jika dibimbing dan dibina, anak-anak yang kebanyakan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, ternyata dapat bersaing dengan anak-anak normal pada umumnya.

“Anak yang berkebutuhan khusus, memiliki banyak potensi yang luar biasa, yang melemahkan hanya pihak ketiga yang kebanyakan belum bermitra kepada pihak sekolah dan belum siap menerima keberadaan lulusan dari SLB ini. Seperti contohnya, yang pandai dan bisa diperbengkelan. Melihat dia memiliki kekurangan seperti misal tuna rungu, pihak bengkel belum siap menerimanya untuk bekerja, padahal dia memiliki skill mumpuni,” ungkapnya.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia