Merasa Sistem Pendidikan Robotik, Netizen: Mestinya Kurikulum Sekarang Dievaluasi Kembali

TANJUNG REDEB – Sempat menjadi viral di dunia maya, berita tentang Panji, salah seorang siswa MAN Tanjung Redeb, yang menuliskan surat untuk kedua orangtuanya sebelum akhirnya meninggalkan rumah, turut memancing opini di sebagian kalangan terkait dengan sistem pendidikan yang saat ini dijalani pelajar Indonesia.

Dalam pemberitaan yang dimuat beraunews.com beberapa waktu lalu, netizen kemudian ramai memberikan beragam tanggapannya. Bahkan ada yang menilai konsep pendidikan yang diterapkan saat ini tidak jelas dan cukup membebani para siswa dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Seperti yang dituliskan akun facebook milik Niez Im, sistem pendidikan saat ini sangat memberatkan bagi pelajar, terutama jam sekolah yang dianggap cukup panjang.

“Ini yang ditakutkan kami selaku orangtua, jam belajar yang panjang dan pelajaran yang berat malah jadi beban buat anak,” tulisnya.

“Itulah hasil konsep pendidikan yang tidak jelas. Hanya proyek saja,” tulis akun Akmal S Mal.

“Itulah kalau konsep pendidikan Indonesia selalu mengikuti pendapat ahli, yang justru makin menjadikan anak murid mejadi robot. Coba kembali pada sistem pendidikan zaman dulu, yang lebih memanusiakan murid, sehingga mampu menghasilkan banyak tokoh hebat seperti Soekarno, KH Agus Salim, dan lain-lain,” tulis akun Bang Jali.

Sementara itu akun Abdus Salam yang memposting berita tersebut turut memberikan komentarnya. Dalam komentar tersebut, netizen tersebut mencoba mengingatkan kepada masyarakat perihal anak tingkat TK yang tidak diperbolehkan untuk membaca, menulis dan menghitung (calistung).

“Betul sekali. Bayangkan anak SD kelas 1 saja sudah dijejali 8 buku (tema 1-8). Artinya anak seusia itu saja sudah wajib bisa membaca. Sementara di TK mereka tak diperbolehkan calistung (baca, tulis dan berhitung), lalu apa mungkin mereka bisa membaca 8 buku tersebut. Inilah bukti sistem pendidikan kita memang sistem robotik sebagaimana disampaikan Bang Jali. Dulu kelas 1 SD kita hanya belajar 1 buku yang kita kenal ini Budi, ini ibu Budi. Toh banyak tokoh-tokoh hebat lahir,” tulisnya.

Akun Lis Ernawati, yang ternyata merupakan orangtua dari Panji, juga turut memberikan komentarnya. “Saya selaku orangtua dari yang bersangkutan tahu betul dengan anak saya yang merasa sangat tertekan,” tulisnya.

Komentar lain juga datang dari netizen pemilik akun Salsabila Baihaq. Dalam komentarnya, netizen tersebut juga mengkritik sistem pendidikan yang saat ini diberlakukan.

“Kami sebagai tenaga pendidik juga sebenarnya keberatan dimana kami harus menyelesaikan target menghabiskan 4 tema dalam satu semester dan masing-masing tema memiliki 4 subtema dan dalam subtema ada enam pembelajaran. Belum lagi ditambah buku tema setiap tahunnya ada revisi terbaru. Sebenarnya sekolah filoting (percontohan) juga keberatan menggunakan kurtilas ini. Kami juga sudah buat surat keberatan tapi sampai sekarang tidak ada respon, bahkan sekolah lain malah harus mengikuti kurtilas wajib. Harusnya kasus adik ini bisa diangkat di media luar atau surat kabar tingkat Provinsi atau Nasional agar bisa dievaluasi lagi kurikulum ini,” tulisnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia