Miris!!! Antar Jemput Pakai Truk Kelapa Sawit, 6 Pelajar Pingsan

 

TANJUNG REDEB – Memenuhi wajib belajar 9 tahun, sarana pendidikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Berau sendiri memang masih jauh dari kata layak. Selain dari segi infrastruktur bangunan sekolah, ketersediaan sarana pendukung juga masih sangat minim.

Seperti yang dialami para pelajar di Kampung Punan Malinau, Kecamatan Segah. Betapa tidak, hanya untuk menuntut ilmu, para pelajar yang duduk di bangku SMPN 12 Berau itu, harus rela berdesak-desakan dengan para pekerja perusahaan kelapa sawit.

Kondisi ini tak jarang membuat sebagian pelajar mudah terserang penyakit, apalagi yang memiliki ketahanan tubuh rendah. Bahkan, ada yang pingsan saat menuju sekolahnya. Seperti, yang baru-baru ini dialami 6 orang pelajar itu dan satu diantaranya harus dilarikan ke RSUD dr. Abdul Rivai, lantaran kondisinya tidak memungkinkan untuk dirawat di Puskemas terdekat.

Tri Sutrisna,  guru olahraga SMPN 12 Berau menilai, pingsannya ke-6 pelajar ini, lantaran dipicu kondisi sarana transportasi yang digunakan para pelajar tidak memadai. Dimana, sehari-hari para pelajar ini menggunakan truk milik PT Natura Pasific Nusantara (NPN) yang biasa digunakan untuk memuat Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit.

Dengan tidak adanya sarana transportasi lain ini, dikatakan Tri, membuat para pelajar tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa menggunakan transportasi perusahaan yang beroperasi di wilayah Kampung Punan Malinau, Kecamatan Segah. Jarak antara rumah para pelajar ini dengan sekolah pun cukup jauh, yakni sekitar 18 kilometer, yang memakan waktu tempuh hingga 30 menit apabila ditempuh menggunakan kendaraan roda 4 dan kecepatan normal.

“Yang saya lihat selama ini, anak-anak ini kalau berangkat kesekolah hanya mengandalkan truk pengangkat buah sawit itu, dengan kondisi truk baknya yang terbuka,” katanya saat ditemui beraunews.com, Senin (17/10/2016) di ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Abdul Rivai.

 

Kondisi infrastruktur jalan yang masih terbuat dari tanah, kembali dinilai Tri, juga menjadi kendala utama dan sangat memprihatikan. Pasalnya, para pelajar ini harus rela berpanas-panasan dan mengirup debu apabila cuaca panas. Sebab, kendaraan yang digunakan para pelajar ini merupakan truk yang biasanya diperuntukkan untuk memuat TBS kelapa sawit. Bukan untuk memuat manusia atau ‘maaf’ hewan sekalipun, sehingga tidak dilengkapi tempat duduk maupun atap.

Sebaliknya, ketika cuaca hujan, pelajar ini pun harus rela seluruh seragam sekolahnya basah dan mereka kedinginan. Selain itu, para pelajar ini harus berusaha keras untuk tetap berdiri dan berpegangan pada sisi bak truk, sebab pengemudi truk pasti akan sedikit melaju di medan jalan yang licin.

“Kalau melihat truknya, saya rasa sudah tidak layak digunakan untuk mengantar anak sekolah. Apabila hujan, mereka kebasahan dan kalau pun kemarau, mereka harus rela menghirup debu yang ditimbulkan dari jalan tersebut,“ jelasnya.

Terkait pingsannya para pelajar, diungkap Tri, sejauh ini pihak sekolah telah menyarankan para pelajar untuk sementara tidak mengikuti mata pelajaran dan lebih disarankan memulihkan kondisi kesehatannya. Selain itu, pihak sekolah belum dapat mencarikan jalan keluar alternatif angkutan pelajar tersebut.

“Bahkan para pelajar ini, yang harusnya sudah pulang di waktu siang, harus menunggu kendaraan perusahaan hingga pukul 16.00 Wita atau sore hari,” ungkapnya.

 

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat Kampun Punan Malinau, Lukas Tengah sangat menyayangkan hal yang terjadi kepada para pelajar ini. Ia pun menilai, pihak perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial (CSR) seharusnya menyediakan sarana transportasi antar jemput anak sekolah yang memang betul-betul layak.

Seperti, truk yang dilengkapi tempat duduk dan tertutup dengan atap. Sebab, memberikan bantuan sarana transportasi yang layak untuk para pelajar merupakan komitmen perusahaan saat membuka usaha dan beroperasi di sekitar wilayah kampung tersebut.

“Dengan adanya kejadian ini, kami minta perusahaan memberikan fasilitas yang lebih baik. Inikan sangat krusial sekali karena menyangkut dengan nyawa,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Humas RSUD Abdul Rivai dr. Erva Anggriana menjelaskan, salah satu pelajar yang pingsan dan harus dirawat di IGD itu memang memiliki riwayat penyakit asmatikus. Kondisi ini bisa dipicu akibat alergi, seperti alergi pada debu, cuaca dingin dan sebagainya.

“Kalau dari sisi medis, penyakit asma itu bisa terjadi pada anak-anak yang mempunyai kerentanan terhadap sesuatu, dalam hal ini alergi. Asma adalah salah satu bentuk alergi yang ditimbulkan oleh karena faktor pencetus seperti faktor dingin, debu, stres dan lainnya,” pungkasnya.(Andi Sawega)