Jangan Sepelekan Pertanian, Ini Alasannya

 

TANJUNG REDEB – Ada yang menarik saat La Ode M Harjoni Kilowasid memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Berau, Senin (10/10/2016) lalu. Pria yang juga merupakan seorang pakar fauna tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari itu memberikan materi "Pemanfaatan Diversitas Fauna Tanah Untuk Pengelolaan Pertanian Berkelanjutan".

Dalam kuliah umum tersebut, ia menjelaskan, tantangan ilmu pertanian untuk keberlanjutan hidup manusia di masa mendatang akan semakin berat, dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Bahkan, berdasarkan hasil analisisnya, diprediksi tahun 2050 mendatang, jumlah orang miskin dan kelaparan akan semakin meningkat. Di tahun 2050 tersebut, diperkirakannya penduduk dunia mencapai 9 milyar jiwa.

“Bagaimana kita memberi makan 9 milyar orang, sementara setiap satu hari 1 miliar orang kelaparan. Nah, siapa yang bisa menjawab? Silahkan tinggalkan pertanian jika ingin kelaparan. Ini merupakan tanggung jawab insan pertanian,” ungkapnya saat menyampaikan materi.

Untuk memenuhi hal tersebut, dikatakannya, perlu teknologi dalam memproduksi pangan dan teknologi dalam pertanian. Tentunya dengan syarat teknologi tersebut harus berkelanjutan. Apalagi, tugas pertanian tidak hanya menyediakan pangan, melainkan juga mengembangkan teknologi pertanian untuk sumber lain seperti energi dan obat-obatan.

Saat ini, untuk di Kabupaten Berau sendiri, menurutnya masih cenderung mengandalkan sektor pertambangan. Hal itu memang tidak menjadi masalah selama sumber daya yang ditambang tetap ada. Namun kata dia, sektor pertanian juga harus menjadi perhatian serius.

“Pertanian tidak akan habis meski setiap tahun selalu dilakukan. Bandingkan dengan pertambangan, begitu habis tidak ada lagi yang bisa ditambang,” tambahnya.

 

Negara Indonesia kata dia, merupakan negara yang memiliki potensi yang sangat luar biasa terutama bidang pertaniannya. Bahkan tak jarang suatu bangsa bergantung pada pertanian, hal itu dilakukan guna menjaga ketahanan pangan negara tersebut. Jadi menurutnya, tidak salah kemudian pemerintah selalu menggenjot pengembangan pertanian demi meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia.

“Jika ingin menghancurkan negara, maka hancurkan pertaniannya. Ketahanan pangan merupakan hal kunci dalam ketahanan negara,” jelasnya.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebesar 255.461.700 jiwa, dan diperkirakan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 271.066.400 jiwa.  Dalam hal ini, pemerintah juga menetapkan angka kecukupan energi pada tahun 2019, yakni 2.150 kkal. Sementara, angka kecukupan energi saat ini baru mencapai 1.930 kkal.

“Pemenuhan kecukupan energi tersebut yang paling mudah adalah dengan melakukan impor. Tetapi hal tersebut akan dilakukan sampai kapan? Kita tidak bisa hanya terus bergantung pada impor,” katanya.

 

Menurutnya, pencapaian ketahanan pangan ditentukan oleh penerapan teknologi dan waktu. Semakin tinggi penerapan teknologi pertanian, maka ketahanan pangan akan semakin cepat dicapai.

“Begitu pula sebaliknya, jika penerapan teknologi pertanian kecil atau minim, maka ketahanan pangan akan semakin lambat untuk dicapai,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua STIPER, Ardiansyah L mengatakan, kegiatan kuliah umum tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia pada suatu perguruan tinggi. Kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa, tetapi juga untuk seluruh staf pengajar.

“Ini dilakukan bertujuan menambah wawasan dan sekaligus peningkatan pengetahuan pertanian langsung dari ahli,” tandasnya.(Hendra Irawan)