Ternyata, Berau Memiliki Banyak Kamus Bahasa Banua

 

TANJUNG REDEB – Masyarakat Kabupaten Berau khususnya yang bersuku Banua harus berbangga karena telah memiliki kamus Bahasa Banua atau bahasa Ibu. Selain dalam bentuk aplikasi berbasis android yang bisa diunduh lewat handphone, ternyata Kabupaten Berau juga telah memiliki kamus bahasa Banua berbentuk buku yang telah dicetak pada tahun 2010-2011 lalu.

Hal ini diungkapkan Kepala Perpusatakaan Daerah Berau, Rabiatul Islamiah yang ditemui beraunews.com di ruang kerjanya, Selasa (11/10/2016). Ia mengatakan, sebenarnya, Kabupaten Berau telah banyak memiliki kamus bahasa Banua yang telah dicetak dalam bentuk buku.

Namun, hingga saat ini, kamus tersebut belum ada yang dicetak layaknya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang telah sesuai Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46/2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

“Kamus Berau itu ada beberapa memang sudah diberikan dengan kami. Ada beberapa memang yang sudah membuat ini, semua sudah almarhum seperti Ahmad Maulana,” katanya.

BACA JUGA : Keren, Berau Bakal Punya Buku Bahasa Banua Resmi

Kamus bahasa Banua yang dicetak selama ini merupakan karya tulis dari para tokoh-tokoh masyarakat suku Banua yang memiliki inisiatif sendiri. Seperti, kamus bahasa Banua dan Tata Bahasanya karya Datu Kasmuni, dengan jumlah halaman sebanyak 40 halaman, terdiri dari 33 halaman kosakata, 5 halaman tata bahasa serta 2 halaman berisi pantun bahasa Banua.

“Yang disusun oleh Pak Datu Kasmuni (Alm), memang masih belum lengkap dan per kata saja,” ujar Rabiatul.

Bahkan, ada kamus bahasa Banua yang juga sudah dicetak layaknya KKBI oleh penulis dan penyusun lain, dengan ketebalan hingga ribuan halaman. Seperti, karya Muhammad Basyara (Alm) yang berjudul ‘Perbendaharaan kosa kata Bahasa Banua dan Artinya dalam Bahasa Indonesia’.

Kamus yang disusun berdasarkan 394 sumber referensi itu, dijelaskan Rabiatul, diketahui pihaknya ada tercetak, setelah melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim di Samarinda.

“Kedua dari Pak Basyara (Alm) yang juga pegawai Humas (Pemkab Berau) waktu itu. Cuma waktu itu, kami dapatkan malah di Perpustakaan Provinsi, waktu kami hunting (kunker-red) ke provinsi. Kami dapatkan ini, terus kami copy dan ini inisiatif dari kami,” jelasnya.

BACA JUGA : Soal Kamus Digital Bahasa Banua, Ini Kata Disdik dan Disbudpar

Kedepannya, diharapkan Rabiatul, ada program bedah buku khususnya untuk kamus bahasa Banua tersebut. Mengingat, sebelum diperbanyak guna menjadi bahan pembelajaran masyarakat, juga diperlukan penyamaan persepsi antara tokoh-tokoh masyarakat Kabupaten Berau yang berasal dari suku Banua.

“Inikan tidak bisa langsung kita perbanyak atau kita berikan ke masyarakat, kan kita harus bedah buku dulu. Jadi kita panggil nantinya tokoh-tokoh masyarakat, artinya yang memang orang Banua asli untuk membahas (kamus bahasa Banua) ini. Baru mungkin kita kedepannya perbanyak,” harapnya.

Untuk saat ini, ditambah Rabiatul, pihaknya tetap mengizinkan masyarakat Berau yang ingin mempelajari kamus bahasa Banua itu sebagai referensi. Namun, pihaknya juga tidak memperbolehkan dipinjam untuk dibawa pulang karena masih adanya keterbatasan jumlah kamus bahasa Banua yang telah dicetak tersebut.

“Tapi, ini sementara untuk referensi kita, boleh kita pinjamkan tapi tidak boleh dibawa pulang karena terbatas,” tambahnya.

Terakhir, dikatakan Rabiatul, pihaknya telah mengajukan penganggaran untuk bedah buku kamus bahasa Banua tersebut. Meski, berdasarkan informasi yang ada, kedepannya hal ini akan menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Kabupaten Berau.

“Bedah buku untuk kamus bahasa Berau atau Banua ini sudah diajukan dan semoga dapat teranggarkan,” pungkasnya.(Andi Sawega)