4 Pelajar SMAN 4 Menjadi Finalis Lomba Inovasi Pangan

 

TANJUNG REDEB – 4 pelajar SMA Negeri 4 Berau berhasil menjadi finalis lomba karya ilmiah yang dilaksanakan beberapa universitas terkemuka di Indonesia. Ke-4 pelajar itu selanjutnya akan mengikuti lomba yang digelar Universitas Brawijaya (Unibra) Malang dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Pembina Finalis, Agusta Danang Wijaya mengatakan, pelajar ini berhasil menjadi finalis setelah diseleksi penyelenggara lomba tersebut. Ke-4 pelajar itu, dibagi menjadi dua kategori, kelompok dan perorangan.

Untuk Kompetisi Pangan Nasional (Fermentation III) yang digelar Unibra, akan diikuti 1 tim yang diketuai Annisa Cecar Rosi Purnama (Siswa kelas XI IPA II) dengan anggota Aliya Saffana Mursalim dan Risa Asri Setianingrum (Siswa kelas XI IPA I). Mereka membawa inovasi pangan tentang teh herbal yang berasal dari daun buas-buas (Premna Cordifolia Linn).

Sedangkan, untuk lomba Esai Nasional GPA 1.0 yang digelar Unair, akan diikuti Puji Astutik. Pelajar SMA Negeri 4 Berau yang duduk dibangku kelas XI IPA I ini akan membawa inovasi pangan tentang Komunitas Pendidikan Petani Desa (KOPI PD) menuju Bonus Demografi Indonesia.

“Lomba pertama itu di Unibra Malang. Mereka membahas inovasi pangan dari teh singkil, jadi inovasi teh yang dibuat dari daun singkil. Yang kedua, itu tentang lomba esai di Unair Surabaya dan masuk finalis juga yang membahas tentang bagaimana membuat sebuah komunitas petani desa menuju bonus demografi Indonesia,” katanya saat ditemui beraunews.com, Selasa (4/10/2016) di Setkab Berau.

Sementara itu, Annisa menjelaskan, daun buas-buas merupakan tanaman pangan yang biasanya dijadikan masyarakat sebagai sayur mayur. Pada umumnya, daun buas-buas akan dimasak sebagai sayuran bersama kacang ijo.

“Karena makanan itu sudah jarang dibuat, jadi sebagai remaja maka kami membuat inovasi pangan yang baru seperti teh herbal,” jelasnya.

Daun buas-buas, dikatakan Annisa, memiliki khasiat tinggi. Selain mengandung karbohidrat, daun yang biasa disebut daun singkil ini, juga mengandung air, serat, alkaloid, zat galian (mineral) termasuk kalium, kalsium, zink, zat besi, fosforus dan berbagai vitamin termasuk A, C dan E.

“Dan itu bermanfaat untuk ibu-ibu yang menyusui, kanker, mengatasi flu babi (H1N1), meringankan sakit kepala dan mengeluarkan angin dari dalam tubuh (sakit kembung),” katanya.

Untuk mengikuti lomba Esai Nasional GPA 1.0 di Unair itu, Puji menjelaskan, dirinya mendirikan sebuah komunitas yang diberi nama KOPI PD. Dimana, komunitas itu akan memberikan pendidikan tentang pertanian ke petani desa maupun para remaja guna menuju bonus demografi Indonesia di tahun 2025 mendatang.

Bonus demografi merupakan suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Sedangkan, proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

“Seiring meningkatnya usia produktif, maka jelas saja di Indonesia ini lapangan pekerjaannya semakin minim. Dari situ, saya berpikir bagaimana caranya para usia produktif nanti mendapatkan pekerjaan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,” jelasnya.

Puji menilai, petani desa sebenarnya dapat hidup sejahtera. Seandainya, para petani ini dapat bertani dengan baik dan benar. Namun, petani desa di Indonesia sangat minim pendidikan, sehingga hal ini menjadi salah satu latar belakang munculnya komunitas yang akan memberikan pendidikan ke para petani desa tersebut. Melalui komunitas ini, petani desa akan dibimbing dan diajari cara bertani dan mengelola hasil pertanian yang baik dan benar.

“Selain bertani, hasil pertaniannya itu nanti akan dikelola sendiri. Tidak perlu melakukan ekspor ke luar negeri,” pungkasnya.(Andi Sawega)