Anak-Anak Keliaran Tengah Malam Salah Siapa

TANJUNG REDEB – Apa faktor kenakalan remaja? Pertanyaan ini yang kerap disampaikan dalam berbagai bahasan baik level warung kopi maupun pembahasan di pemerintahan. Dilihat dari sejumlah kasus, indikasi tingkat kenakalan remaja di Berau terus meningkat pada level mengkhawatirkan. Gerbang menuju kenakalan level lebih tinggi terus terbuka, dilihat dari indikasi remaja ngelem, balap liar, seks bebas dan sejumlah kenakalan lainnya.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Berau, Wiyati menyebutkan, ada begitu banyak faktor penyebab, mulai dari lingkungan, pergaulan, rasa penasaran dan lemahnya pengawasan.

“Salah satunya adalah faktor lingkungan, pergaulan yang tanpa pengawasan dan protek (perlindungan-red) menjadi penyebab anak-anak terjerumus dalam kenakalan anak. Sehingga sangat disayangkan melihat anak-anak yang bebas berkeliaran sampai malam tanpa ada pengawasan orang tua,” jelasnya.

Saat ini di Berau sudah dibentuk tim untuk percepatan Berau sebagai Kabupaten Layak Anak. Seluruh instansi terkait dilibatkan dalam tim dengan tupoksi masing-masing. Menurutnya, meskipun merupakan tanggung jawab penuh orang tua terhadap keselamatan dan pergaulan anak-anak. Namun program-program dukungan wajib dilakukan pemerintah. Untuk Berau, sudah dirancang program yang mendukung keamanan dan keselamatan anak.

 “Artinya tidak melepaskan tanggung jawab kita ikut partisipasi mengawasi dan meluruskan anak-anak kita yang mendekati atau sudah terjerumus,” bebernya.

Partisipasi instansi seperti Satpol PP bisa melakukan razia kepada anak-anak usia sekolah yang berkeliaran apalagi dijam-jam yang sudah tidak layak untuk anak diluar rumah bisa dilakukan. Atau pihaknya bisa menguatkan konsep dan pelaksanaan sosialisasi dilingkungan sekolah dan masyarakat luas.

“Sayangnya untuk tupoksi ini yang belum dibuat dalam bentuk peraturan atau kesepakatan bersama. Masih kita bahas,” lanjutnya.

Namun lebih penting lagi, diminta Wiyati, khusus untuk tempat-tempat seperti taman yang ada dalam kota, perlu dilengkapi dengan petugas yang memastikan tempat itu ditutup pada jam tertentu.

“Sampai saat ini masih sering ditemukan ada anak-anak yang berkeliaran ditaman, meskipun jam sudah menunjukan pukul 11.00 Wita ke atas bahkan dinihari,” pungkasnya.(ana)