Jayanti Ayu Lestari, Penulis Muda Dari Berau, Turut Promosikan Wisata Lewat Novel

JAWA BARAT – “Menulis adalah sebuah keberanian,” begitu ungkapan seorang sastrawan Indonesia yang sangat fenomenal pada masanya, Pramoedya Ananta Toer. Berani untuk dibaca, berani untuk dikritik, berani untuk mengubah dan bahkan berani untuk menjadi sejarah.

Memang, dunia tulis menulis tidak semudah yang dinyatakan sebagian orang. Tapi dunia tulis menulis juga tidak sesulit yang dibayangkan kebanyakan orang. Hanya perlu sedikit usaha, tekad dan minat untuk menghasilkan sebuah karya tulis, yang tentunya dapat dilirik dan dibaca oleh semua orang.

Jatuh, bangun lagi. Gagal sekali harus bangkit tiga kali. Hal itu yang sempat dirasakan gadis bernama lengkap Jayanti Ayu Lestari, sang penulis muda dari Bumi Batiwakkal (sebutan Kabupaten Berau-red) yang saat ini telah berhasil menerbitkan karya tulisnya berupa novel perdana dengan judul ‘Saat Cinta Menyapa’.

Bakat dan minatnya di dunia kepenulisan memang sudah tampak sejak ia duduk di bangku SDN 10 Merancang Ulu pada tahun 2000 hingga 2006 silam. Apapun itu, ia tulis. Bahkan, gadis kelahiran Kampung Merancang Ulu, Kecamatan Gunung Tabur, 24 Agustus 1993 ini, memiliki banyak buku harian (diary book). Didalamnya, bermacam-macam kisah dan cerita tentang dirinya atau bahkan teman, sahabat dan keluarga, ia rangkai menjadi bait demi bait kalimat. Terkadang, curahan hati pun ia sampaikan dalam buku harian tersebut.

Meski mengawali hobi menulisnya dengan gaya ‘amatir’, lama-lama ia mulai berani menulis setingkat lebih serius. Dengan bakat yang sudah tersirat dalam dirinya, jelas tidak sulit menumbuhkan semangat menulis. Satu per satu cerita pendek (cerpen), mulai ia rangkai. Dengan latar belakang tokoh, tempat, dan waktu yang ia tentukan sendiri berdasarkan imajinasi tingkat tingginya, akhirnya puluhan cerpen berhasil ia ciptakan.

Demi cita-citanya, dengan bermodalkan keyakinan, keberanian dan tentu saja hasil karyanya, sekitar bulan September 2014 lalu, putri ketiga dari pasangan Ismail dan Padaria ini kemudian mencoba mengirimkan naskah-naskah cerpen miliknya ke beberapa penerbit online. Tidak mudah, bahkan ia sempat merasa putus asa tatkala tidak ada penerbit yang mau menerima. Namun, dengan dukungan yang tidak pernah berhenti mengalir dari orang-orang tersayang disekelilingnya, bak setitik api yang disiram bahan bakar, semangatnya kembali menyala dan membara.

“Sejak saat itu saya belajar lagi cara menulis yang baik, belajar otodidak tanpa bimbingan guru atau kursus atau seminar menulis, selain tidak ada kesempatan juga masalah dengan biaya,” ucap alumni siswa SMPN 17 Berau angkatan tahun 2006 hingga 2009 tersebut kepada beraunews.com melalui saluran selular, Selasa (6/9/2016).

Terhitung, sudah lebih 57 buku antologi atau karya bersama yang menyertakan namanya dalam daftar pengarang baik cerpen, puisi dan narasi. Hal itu membuat semangatnya untuk menjadi seorang penulis yang dapat menerbitkan buku dengan tulisan nama dirinya di sampul buku semakin menjadi-jadi. Hingga kabar gembira yang ia pun tidak menyangka sebelumnya, datang tepat di hari ulang tahunnya yang ke-23. Tepat pada 24 Agustus 2016, penerbit yang ia tunggu-tunggu akhirnya menerbitkan karya novel pertamanya tersebut.

Uniknya, meski berkisah seputar kehidupan seorang anak remaja, namun Jayanti tidak ketinggalan memuat latar belakang tempat yang menggambarkan tanah kelahirannya, Kabupaten Berau. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dalam novel tersebut ia memberi latar belakang salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) yang rutin melaksanakan kegiatan study tour (perjalanan untuk belajar) bersama siswa-siswi sekolah tersebut ke pulau wisata seperti Pulau Derawan dan Biduk-Biduk yang terkenal dengan Labuan Cermin atau danau dua rasa.

Gadis yang juga pernah menempuh pendidikan di bangku Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanjung Redeb, angkatan tahun 2009 hingga 2012 ini juga dengan penuh keyakinan menggambarkan keindahan Pulau Derawan. Pasir putih, terumbu karang, dan beragam biota laut yang menjadi daya tarik pulau tersebut ia jadikan bumbu yang membuat tulisan dalam novel tersebut semakin indah untuk ditelusuri lembar demi lembarnya. Begitu juga pesona Biduk-Biduk, yang tidak ketinggalan menggambarkan suasana alamnya. Ribuan pohon kelapa menjulang di sepinggiran pantai Biduk-Biduk, keunikan danau dua rasa hingga romantisnya sunrise (matahari terbit) di pagi buta.

Bukan hanya karena Berau adalah tanah kelahirannya, dengan memuat latar belakang tempat wisata, Jayanti ingin turut memperkenalkan kekayaan wisata yang dimiliki Berau. Hal itu dinilainya sejalan dengan apa yang sedang digencar-gencarkan pemerintah daerah untuk mempromosikan sektor pariwisata hingga ke kancah internasional. Bahkan, dirinya bersedia membantu Pemerintah daerah jika diminta menyusunkan buku atau novel tentang pariwisata Berau atau hal lainnya.

“Walaupun dalam novel saya tidak membuat semua latarnya di Berau, tapi sedikit banyaknya saya senang dapat mencantumkan nama daerah kelahiran saya di novel pertama yang tentunya akan dibaca oleh banyak orang,” katanya sambil mengembangkan senyum yang menyiratkan kebahagiaan, sedikit demi sedikit cita-citanya mulai tercapai.

Untuk sementara ini, novel ‘Saat Cinta Menyapa’ karya perempuan yang tercatat sebagai mahasiswa di STAI Syamsul ‘Ulum Kota Sukabumi, Jawa Barat, hanya bisa didapatkan melalui media online seperti facebook, twitter, instagram dan lainnya.

Tak banyak pemuda-pemudi, khususnya di Berau sendiri, yang memiliki minat dalam dunia kepenulisan. Hanya ada segelintir saja yang kemudian menekuni dunia ini. Sehingga sebagai bentuk apresiasi, khususnya dari pemerintah daerah, Jayanti sangat berharap novel perdananya tersebut dapat didistribusikan ke perpustakaan daerah (perpusda) sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan masyarakat, khususnya kaum muda.

“Saya sangat berharap novel perdana ini dapat dibaca oleh masyarakat Berau secara luas. Minimal pemerintah dapat membantu mendistribusikannya paling tidak melalui perpusda kita yang ada saat ini,” harapnya sambil menunjukkan novel perdana hasil karyanya.(Marta)