Sempat Ngelem dan Merokok, Sekarang Jadi Atlet Binaraga

 

TANJUNG REDEB – Usianya masih belia, 18 tahun, tapi siapa sangka jika ia sudah menjadi salah satu atlet berprestasi di Kabupaten Berau.

Menekuni binaraga sejak 2012, Setiawan Saudi, remaja asli Berau ini ternyata sudah malang melintang dalam mengikuti berbagai kontes. Tetapi, tak banyak yang mengetahui bagaimana ia akhirnya bisa jatuh cinta pada binaraga.

“Awalnya ikut bapak yang memang hobinya fitness. Hari pertama saya hanya melihat, bahkan tidak terpikir untuk mencoba alat-alat yang ada. Tapi hari kedua dan ketiga, timbul keinginan mencoba karena penasaran, dan itupun masih dengan pakaian lengkap, pakai jaket supaya tidak kelihatan badan kurus saya,” beber remaja kelahiran Berau, 16 Juli 1999 ini ketika menyambangi redaksi beraunews.com, Sabtu (21/01/2017) malam.

Dengan berat badan yang terbilang kurus untuk ukuran remaja seusianya, Saudi (sapaan akrabnya-red), memang masih malu-malu. Tapi setelah setahun bolak balik ke fitness, ia mulai berani menggunakan kaos pendek.

“Ya setelah mulai rajin fitness, saya berniat menggemukkan badan saja. Eh ternyata kebablasan sampai seperti sekarang, karena jatuh cinta saat melihat bentuk badan para binaraga yang proporsional,” terang putra dari pasangan Rinto dan Ernawati ini.

Sebelum mengenal binaraga, Saudi mengaku jika ia termasuk anak yang nakal. Merokok dan ngelem pun pernah ia lakukan ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

“Namanya masih anak-anak, suka ikut-ikutan pergaulan, dan maunya coba-coba, alhasil saya ikut terpengaruh juga. Tapi sejak kenal binaraga ini saya malah enggan mendekati hal-hal seperti itu, bahkan dengan asap rokok pun saya menjauh,” ungkapnya.

Sekarang, remaja yang juga tercatat sebagai salah satu siswa SMA N 2 Berau, yang hobi fitness dan futsal ini, makin serius menggeluti dunia binaraga. Beberapa prestasi yang diraihnya yakni, juara 3 Body Contest “PRIMA” di tahun 2015 dengan kategori New Beginning, dan juara 2 Body Contest “PRIMA Part II Bupati Cup Berau dengan kategori yang sama.

“Itu adalah kontes pertama yang pernah saya ikuti, karena sebelumnya tidak pernah ikut kontes olahraga apapun,” katanya.

Pengaturan pola makan menjadi kunci penting sukses tidaknya seseorang membentuk badannya. Hal ini jugalah yang dilakukan Saudi. Ketika masa balking (menambah berat badan-red), ia mengaku tak ada batasan saat makan, dan ketika memasuki masa cutting (pembentukan dengan pembuangan lemak-red), makanan yang masuk mulai dikontrol.

“Kalau balking, semua makanan saya makan. Tapi saat cutting, makanan mulai diatur yakni, seminggu pertama full karbohidrat, minggu selanjutnya full protein. Dan diet ‘ala’ binaraga ini semakin ketat saya lakukan seminggu sebelum mengikuti kontes, yaitu dengan konsumsi hanya buah-buahan dan 2 liter air setiap harinya,” ujar Saudi yang kini memiliki berat badan 53,87 kilogram dan tinggi 164 centimeter.

Ditanya tanggapan orang tua mengenai hal ini, Saudi menjawab dengan lantang, jika kedua orang tuanya sangat mendukung ia menggeluti binaraga. Tapi, dengan catatan otot yang dibentuknya jangan over big size (terlalu besar), melainkan yang ideal sesuai dengan tinggi dan berat badannya.

“Kami mendukung 100 persen jika itu memang positif bagi dia (Saudi-red), bahkan saya juga sering membantu mengatur pola makannya. Tapi sampai saat ini kami sebagai orang tuanya sangat support,” terang Ernawati, ibu Saudi, ketika dihubungi lewat telepon genggamnya.

Sedangkan di sekolah, ia mengatakan jika teman-temannya menganggap hal biasa ketika mengetahui ia menjadi seorang atlet binaraga. Hanya saja, namanya juga remaja, pasti ada sedikit bahan bercandaan. Contohnya, ketika acara ulang tahun sekolah, ia diminta untuk memamerkan bentuk badannya di hadapan seluruh isi sekolah.

Dikenal sebagai anak yang cukup pendiam di rumah, Saudi pun tak pernah merasa cukup dengan apa yang diperolehnya saat ini. Ia mengaku, meskipun sudah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi nantinya, ia akan tetap menekuni dunia binaraga.

“Keinginan saya bisa meraih prestasi lebih banyak lagi, bukan hanya di daerah, tapi juga di tingkat provinsi bahkan nasional. Makanya saya ingin membuat dan membentuk otot saya lebih besar lagi supaya bisa mengikuti kontes tingkat profesional,” pungkasnya.(bnc)