Waspada!!! Ruas Jalan di Depan Inhutani “Bakal” Ambruk Juga

 

TANJUNG REDEB – Masyarakat Berau khususnya yang melakukan perjalanan dari arah Teluk Bayur dan Gunung Tabur ke Tanjung Redeb, pasti pernah melewati jalan sekitaran PT Inhutani, yang dimana saat melewati jalan tersebut pengedara seakan seperti terjungkit, dan tentu saja dapat membahayakan keamanan bagi pengguna kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Terlebih lagi saat malam hari lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) disekitar jalan itu pun, lebih sering padam.

Tak sedikit warga yang mengeluhkan kondisi jalan tersebut, dan meminta agar instansi terkait dapat menangani permasalahan di sana. Menanggapi hal itu, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Berau, Rahmad mengatakan, masyarakat harus memahami, jika di seluruh kabupaten/kota, jalanan itu terdiri dari 3 kewenangan, yakni jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota. Untuk jalan di depan Inhutani itu, merupakan ruas jalan nasional yang kewenangannya menjadi milik pemerintah pusat.

“Karena itu ruas jalan nasional, maka kita di kabupaten tidak memiliki kewenangan untuk melakukan perbaikan. Kalau kita berani memperbaiki, maka kita yang akan ditangkap. Sebab anggaran daerah tidak diperkenankan digunakan untuk segala hal yang bukan kewenangan daerah, kecuali ada ijin khusus ya,” bebernya kepada beraunews.com, Jumat (05/01/2018).

Namun demikian, tambah Rahmad, terkait kondisi jalan tersebut sudah disampaikan pihaknya secara langsung melalui ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XII Balikpapan, Konferman yang juga PPK jalan di depan pasar Sanggam Adji Dilayas dan Jembatan Bujangga, bahwa jalan tersebut sudah ada tanda-tanda akan ambruk juga dan perlu segera untuk diantisipasi.

“Harus ada penanganan dan penyidikan memang di jalan Inhutani itu. Memang menurut Profesor Indra Surya dari ITS (Institut Teknonogi Sepuluh Nopember) bahwa kawasan Inhutani sampai kecamatan itu merupakan kawasan rawan bencana karena penumpukan arus sungai dan kondisi tanah juga labil dengan kedalaman tanah yang keras sangat variatif,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Rahmad, untuk penanganan jalan di sana, harus dilakukan secara langsung di dua sisi, yakni sisi darat dan sisi sungai. Dimana, untuk penanganan sisi sungai, setiap 3-4 meter harus dipasang kerb. Kerb merupakan bangunan yang sedikit menjorok ke sungai dengan fungsi mengalihkan arus sungai serta menahan dan mengendapkan sedimen sehingga daratan menjadi kuat.

“Selain kerb, juga diperlukan site pile yang berfungsi sebagai cerucuk (penahan) guna menstabilkan agar yang di darat tak ikut longsor,” terangnya.

 

Terkait PJU, Rahmad mengatakan, berdasarkan hasil rapat yang baru dilakukan kemarin di Kantor Bupati dan dihadiri langsung oleh Bupati Berau Muharram, beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan PT Berau Coal, maka dalam waktu dekat ini, direncanakan disana akan dipasang solar cell. Bahkan, pemasangan solar cell tak hanya dilakukan di sana, melainkan di beberapa titik jalan yang ada di dalam kota.  

“Untuk pendanaan PJU-nya bisa ditanyakan ke Dinas Perhubungan, tapi yang jelas sebentar lagi kami akan segera merealisasikan solar cell,” tandasnya.

Untuk diketahui, ruas jalan dari Kota Samarinda, Kelay hingga Jembatan Sambaliung merupakan ruas jalan nasional. Sementara dari Jembatan Sambaliung hingga ke Lenggo Kecamatan Batu Putih merupakan ruas jalan provinsi, dan dari jalan lenggo ke Biduk-Biduk merupakan ruas jalan kabupaten.(Miko Gusti Nanda/bnc)