Jalan Bujangga Tak Kelar Sebelum Lebaran, Ini Kata PPK

TANJUNG REDEB – Pengerjaan proyek jembatan bailey di Jalan Bujangga awalnya sempat ditargetkan rampung sebelum hari raya Idul Fitri 1437 H. Namun, melihat kondisi pengerjaan proyek tersebut yang hingga hari ini, Minggu (3/7/2016) seolah ‘tertidur’ membuat masyarakat yang berharap dapat segera melintasi jalan tersebut semakin kecewa.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Pejabat Pembuat komitmen (PPK) 15 Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Kaltim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Nunung Noor Adnan mengatakan, proyek tersebut tidak bisa dirampungkan sesuai target karena terkendala mobilisasi material.

“Secara teori kita memang inginnya pekerjaan jembatan ini bisa segera rampung bahkan sebelum hari lebaran, tetapi realitanya kita tidak bisa memungkiri bahwa ada beberapa kendala yang membuat proses pengerjaan jembatan ini tidak bisa sesegera mungkin dituntaskan. Salah satunya adalah permasalahan pada material yang membutuhkan waktu untuk mencarinya, belum lagi merakitnya,” ungkapnya kepada beraunews.com saat diwawancarai via telepon.

Pengerjaan proyek jembatan bailey tersebut dikatakan Nunung, merupakan hasil dari kajian dan evaluasi yang dilakukan oleh pihak Kemen PUPR.

“Kami tidak mau memberi harapan, karena realistis saja bahwa jembatan ini tidak bisa diselesaikan sebelum lebaran seperti yang diharapkan masyarakat. Operator yang diharapkan bisa membantu untuk penyelesaian proyek ini juga saat ini sedang pulang kampung,” ujarnya.

Ditanya mengapa pengerjaan jembatan ini dilakukan disaat sudah mendekati lebaran, Nunung mengatakan, sebelum melakukan pekerjaan Kemen PUPR membutuhkan kajian teknis yang mendalam.

“Belajar dari pengalaman sebelumnya, kami tidak ingin membangun sesuatu yang desainnya belum matang, sehingga kajian perlu dilakukan sebelum pengerjaan dilangsungkan,” ucapnya.

Terkait rencana Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo yang akan melaporkan keterlambatan penyelesaian jembatan tersebut ke Keme PUPR, Nunung mengatakan, apa yang dilakukan oleh pihaknya saat ini sudah maksimal.

“Kami sudah melapor kepada pimpinan apa permasalahannya. Pimpinan sudah langsung liat sendiri ke lokasi. Dan kalau Wabup ingin melaporkan itu kan hak beliau. Kalau saya hanya sebagai pelaksana di lapangan saja. Dan kami juga sudah melakukan yang maksimal,” kilahnya.

Ia juga mengungkapkan alasan penggunaan batang kelapa sebagai dudukan jembatan bailey yang saat ini tengah dalam proses pengerjaan. Menurutnya, dengan menggunakan batang kelapa jembatan dapat menjadi lebih kuat, sebab sifat batang kelapa yang elastis dan tidak mudah patah.

“Beberapa jembatan ada yang menggunakan batang kelapa sebagai dudukan atau bantalannya, karena  batang kelapa itu agak lentur dan seratnya lebih elastis. Kita juga belajar dari pembangunan jembatan lainnya. Perlu diketahui bahwa batang kelapa itu sebagai dudukannya, bukan sebagai pondasi,” jelasnya.

Meski terkendala mobilisasi material, ia tetap berharap proyek pengerjaan jembatan bailey yang tiga bentang, yakni bentang 30 bentang 50 dan bentang 21 tersebut dapat terselesaikan dengan baik.

“Target kita saat ini adalah materialnya bisa segera terpenuhi. Saya tidak bisa menargetkan kapan jembatan ini akan selesai, karena kami juga belum pernah menangani jembatan bailey yang tiga bentang,” pungkasnya.(mta)