Penyedia Barang Keluhkan Pelayanan Dinkes

TANJUNG REDEB – Beberapa penyedia barang merasa heran dengan kerjasama yang dilakukan pihaknya dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau. Pasalnya, mereka diminta untuk menyediakan barang, namun setelah tersedia, pihak Dinkes malah tak lakukan pengecekan sama sekali.

Salah satu penyedia barang, Aris Lande mengatakan beberapa bulan lalu pihaknya mendapat 2 paket pekerjaan penyediaan barang dari Dinkes. Guna menjaga nama baik perusahaannya, ia segera menyediakan barang sebagaiman spesifikasi dalam kontrak paket tersebut. Namun, hingga 1 bulan barang tersedia, tidak ada tindak lanjut dari Dinkes.

“Ada 2 paket yang saya dapat seperti meubelair, mesin serta perlengkapan dapur. Saya sudah sediakan semua sejak bulan Mei lalu dan laporan sudah diserahkan ke Dinkes, tapi tidak ada tim yang turun untuk mengecek,” ujarnya kepada beraunews.com

Dikatakannya, jenis barang yang ia sediakan, yakni tandon air kapasitas 1.200 liter, meja makan, lemari obat, lemari arsip, lemari petugas, ranjang kayu, sofa, tabung elpiji, mesin pompa air, kursi kerja, meja kerja, kompor gas, kursi tunggu panjang stainless dan kasur.

“Masing-masing barang ada 9 unit dan semuanya enggak mungkin saya tumpuk di rumah seperti ini, rumah saya penuh dan barang-barang yang terbuat dari kayu saya simpan diluar. Khawatirnya, meski sudah saya tutup terpal dan buatkan pondasi, namun cepat atau lambat itu akan rusak karena ini sudah musim hujan,” ucapnya cemas.

Aris berharap, pihak Dinkes segera mengambil langkah untuk mengecek apa yang sudah disediakan dalam paket tersebut. Pasalnya, untuk menyediakan ini tak sedikit dana yang ia gunakan dan sumber dana pun bukan hanya pribadinya saja.

“Saya juga kurang lebihnya pakai jasa peminjaman dana, semakin lama kita kembalikan, maka semakin besar juga bunganya. Makanya saya harap ini bisa segera selesai karena rumah saya juga sempit menyimpan barang ini,” pintanya.

Dikonfirmasi terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinkes Berau, Andarias Baso membenarkan jika pihaknya sudah menerima laporan dan keluhan dari pihak penyedia paket tersebut. Namun, ia juga sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinkes sejak Maret lalu, tapi belum ada titik terang karena tim pengawas belum terbentuk.

“Sudah saya sampaikan kepada kepala dinas, tapi katanya ia. Namun, sampai 3 kali saya konfirmasikan kembali belum juga ada tindakan,” katanya.

Dikatakannya, Kepala Dinkes juga sudah meminta Bagian Umum untuk membuat Surat Keputusan (SK) agar bisa segera terbentuk tim pengawas, tapi sampai saat ini pihak tersebut tidak merealisasikan dengan alasan belum ada perintah dari Sekretaris.

“Begini lah kalau dalam satu SKPD ada yang merasa lebih tinggi dari Kadis, apa yang diminta untuk kepentingan dinas tidak dilakukan,” bebernya.

Dengan terhambatnya pembentukan pengawas, jelas dirinya selaku PPK yang menjadi sasaran para penyedia barang dari paket-pekat yang terlah diberikan. Selain itu, Puskesmas dan Puskesdes yang sudah memerlukan barang itu juga mempertanyakan.

“Kasihan Puskesmas dan Puskesdes yang sudah menunggu barang-barang ini. Kalau ditumpuk semua di kantor, kita juga khawatir ada barang-barang yang hilang nantinya,” jelasnya.

Andarias berharap, tim bisa dibentuk sesegera mungkin untuk mengecek barang yang sudah disedikan penyedianya. Sehingga kebutuhan Puskesmas dan Puskesdes bisa segera direalisasikan.

“Kita harap bisa cepat, jadi yang menyediakan tidak mempertanyakan terus dan barang bisa direalisasikan sesegera mungkin,” pungkasnya.(dws)