Nasib Buruh Ketinting Digantung di Jembatan

 

GUNUNG TABUR – Sejak jembatan penghubung antara Kecamatan Teluk Bayur dan Kampung Tasuk berdiri, penyedia jasa penyeberangan ketinting seakan hanya menjadi pajangan saja, karena masyarakat lebih memilih menggunakan jalur darat ketika menuju Tasuk maupun sebaliknya.

Padahal, transportasi sungai dulunya adalah pilihan utama untuk menjangkau Kampung penghasil beras ini. Kini, hanya beberapa saja yang masih menggunakan jasa penyeberangan perahu motor tersebut.

“Walaupun masih ada yang menyeberang, tapi sangat kurang, tidak seperti dulu saat belum ada jembatan Tasuk ini,” ungkap Simangunsong, salah satu penyedia jasa ketinting.

“Dari subuh hingga siang pun jarang dapat penumpang, malah bisa dikatakan nasib-nasiban saja,” sambungnya.

Sebelum ada jembatan, pendapatan jasa penyebrangan ini bisa dikatakan melimpah, karena banyak yang membutuhkannya.

“Sebelumnya, kami bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp50 ribu setiap harinya. Sekarang hanya Rp10 ribu, kadang bahkan hanya Rp5 ribu saja,” ucap Marbunsai, penyedia jasa penyeberangan lainnya.

Sejak awal pembangunan jembatan, penyedia jasa penyeberangan pun was-was. Jika sewaktu-waktu mereka tidak mendapatkan hasil sama sekali karena pengalihan jalur penyeberangan yang awalnya melalui air, kini bisa dilalui lewat darat, bagaimana nasib dapur rumah mereka? Sedangkan untuk bekerja di perusahaan pun usia menjadi kendala karena perusahaan hanya merekrut pekerja usia muda saja.

Pencatat penghasilan buruh ketinting, Agus, juga mengutarakan isi hatinya.

“Kami berharap agar perusahaan dapat memperhatikan para buruh seperti kami ini, jangan hanya yang muda saja yang ditarik untuk bekerja, kami pun yang tua mempunyai skill untuk bekerja, menjadi bagian dari perusahaan,” harapnya.

Di sisi lain, teman beliau sesama buruh, Anwar pun ikut mengungkapkan uneg-unegnya.

“Dengan adanya jembatan baru ini, pendapatan kami berkurang sekitar 70 persen,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia