CSR PT Berau Coal Dukung Pengoperasian 3 IPA, Realisasinya Belum Diketahui Kapan

 

TANJUNG REDEB – Dalam upaya percepatan pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya pengoperasi 3 unit Instalasi Pengelolaan Air (IPA), yakni IPA Suaran, IPA Bebanir Bangun, dan IPA Segah, PDAM Tirta Segah mendapatkan dukungan pembangunan jaringan listrik dari PT Berau Coal. Hal ini diungkapkan Direktur PDAM Tirta Segah, Adief Mulyadi yang ditemui beraunews.com di ruang kerjanya, Jalan Raja Alam I beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal itu, Public Relations Manager PT Berau Coal (BC), Arif Hadianto membenarkan apa yang disampaikan mantan Direktur PDAM Kota Bontang tersebut. Selain memang merupakan salah satu program utama Corporate Social Responsibility (CSR) PT BC yang selama ini telah berjalan dan terlaksana, dukungan itu juga bentuk komitmen PT BC kepada pemerintah daerah terkait program ketersediaan air bersih bagi masyarakat Berau.

“Program air bersih itu sejak dulu menjadi salah satu program utama CSR PT Berau Coal. Dengan adanya permintaan dari Pak Bupati (Muharram-red) ini, prinsipnya kita mendukung program yang didorong Bupati Berau tentang ketersediaan air bersih,” katanya saat ditemui beraunews.com, disela-sela aksi demo damai, Jumat (4/11/2016) kemarin di Lapangan GOR Pemuda.

BACA JUGA : Didukung PT Berau Coal, PDAM Tirta Segah Segera Operasikan 3 IPA Baru

Salah satu kampung yang pernah menjadi target CSR PT BC untuk program ketersediaan air bersih, lanjut Arif, yakni Kampung Sambakungan Kecamatan Gunung Tabur, Kampung Tumbit Melayu dan Kampung Pegat Bukur Kecamatan Sambaliung.

“Yang sudah dilakukan itu, Sambakungan, Tumbit Melayu atau Meraang, terus kemudian Pegat Bukur,” lanjutnya.

Dukungan pembangunan jaringan listrik yang akan terintergrasi dengan ke-3 IPA itu, jelas Arif, dibuktikan PT BC bersama Pemkab Berau melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) dan PDAM Tirta Segah telah melakukan survei lapangan. Survei itu guna mengetahui kondisi riil di lapangan, sehingga PT BC bisa mengetahui estimasi anggaran yang diperlukan untuk pembangunan jaringan listrik tersebut.

“Yang kita lakukan di tahap awal itu adalah survei teknis. Tahap awal untuk mengetahui berapa biaya, berapa kebutuhan sarana dan lain-lain. Saat ini, masih di survei jadi masih dihitung oleh teman-teman teknis. Kemarin kan sudah melibatkan (PDAM-red) juga,” jelasnya.

Perlunya dilakukan survei lapangan dan segala perhitung, tambah Arif, sebab beberapa IPA yang ada memiliki spesifikasi kebutuhan jaringan listrik yang berbeda. Ada yang telah memiliki jaringan listrik namun belum ada gardu listrik (trafo) dan ada juga yang sudah memilik gardu listrik, namun tidak cukup untuk menyuplai kebutuhan listrik untuk pengoperasian IPA serta lainnya.

“Belum tahu, dari hasil perhitungan teknis itu nanti, baru akan dibentuk suatu proposal yang dimintakan persetujuan oleh manajemen. Dan estimasinya kapan, ya lewat kajian teknis tadi supaya selesai dulu,” tambahnya.

Untuk itu, dikatakan Arif, proses realisasi pembangunan jaringan listrik yang terintegrasi untuk pengoperasian 3 IPA itu sangat tergantung oleh proses percepatan survei teknis di lapangan dan penyusunan anggaran tersebut.

“Tergantung dari proses kecepatan teman-teman menghitung, kemudian persetujuan dari top level manajemen kita,” pungkasnya.(Andi Sawega)