Wahhh, Jembatan Putus, Kontraktor Jembatan Sei Agung Tak Peka

 

SEGAH – Pembangunan Jembatan Sei Agung yang ada di jalan poros SP 2-SP 6 menuju Kecamatan Segah mendapat sorotan. Pasalnya, pembangunan jembatan tersebut, hingga saat ini diperkirakan masih belum mencapai 50 persen. Hal itu diungkapkan anggota Komisi III DPRD Berau, Rudi P Mangungsong saat berada di Kecamatan Segah.

Selain progress pekerjaan yang terbilang lambat, salah satu yang menjadi fokus perhatiannya adalah pihak kontraktor tidak memiliki inisiatif untuk membangunkan jembatan alternatif untuk warga yang ingin menyeberang.

Terlebih, jembatan sementara yang sebelumnya ada kini juga telah putus. Kondisi itu juga diperparah dengan cuaca yang tidak menentu. Hal itu tentu membuat kondisi disekitar pembangunan jembatan selalu kebanjiran.

Akibat tidak adanya jembatan alternatif untuk menyeberang, warga setempat terpaksa harus menggunakan jasa warga dengan biaya Rp10 ribu. Menurutnya, kondisi itu cukup membebankan masyarakat, apalagi kejadian tersebut telah terjadi selama kurang lebih satu bulan.

“Kontraktor tidak memperhitungkan sama sekali waktu pekerjaan dan keadaan cuaca saat ini,” bebernya kepada beraunews.com, Sabtu (15/10/2016).

Diketahui, pembangunan Jembatan Sei Agung tersebut dananya bersumber dari APBN berkisar Rp15,08 miliar, namun lelangnya dilaksanakan di Kabupaten Berau, yang dimenangi oleh PT Wirdha Mandiri dengan nilai penawaran Rp13,33 miliar.

“Seharusnya kan kontraktor harus lebih peka. Paling tidak, pihak kontraktor membuat sesuatu yang bisa digunakan masyarakat. Jangan sampai seperti ini, yang ada aktivitas masyarakat jadi terganggu,” bebernya.

Hal itu dikatakannya penting, mengingat akses tersebut merupakan salah satu akses yang dapat digunakan masyarakat sekitar, dan penting bagi kontraktor mengupayakan jembatan alternatif tersebut.

Terlebih dikatakannya, akses tersebut juga merupakan penghubung antar kecamatan. Dirinya berharap, pihak kontraktor dapat mengupayakan jembatan alternatif guna mempermudah masyarakat dalam beraktivitas.

“Entah itu seperti pelampung atau apapun itu, yang penting dapat digunakan masyarakat untuk melintas, sehingga aktivitas warga tidak terganggu. Kalau seperti it terus kasihan masyarakat,” tuturnya.

 

Menyikapi hal tersebut, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Berau melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Charles mengaku telah menerima laporan terkait putusnya jembatan sementara akibat dari banjir luapan sungai.

Pihaknya juga telah mengutus sejumlah staf DPU untuk melakukan peninjauan ke lapangan untuk memastikan kondisi jembatan sehingga dapat segera diperbaiki sebelum membahayakan pengguna jalan.

“Kita sudah putus orang kita menuju ke lokasi, saya juga sudah hubungi pihak kontraktor agar segera memperbaiki. Tapi proses perbaikan baru dapat dilakukan setelah air surut,” ujarnya.

Terkiat dugaan proses pembangunan jembatan yang dinilai asal-asal tersebut pihaknya mengaku belum mengetahui. Namun, proyek pembangunan jembatan diakui Charles mencapai 60 persen. Pihaknya menargetkan sebelum akhir November harus sudah rampung hingga peristiwa seperti tidak terulang kembali.

“Kalau soal pembangunan asal-asalan saya belum tahu, nanti kita cek. Saat ini itu pembangunan sudah 60 persen. Semoga cepet selesai. Biar warga tidak lewat jembatan sementara itu lagi,” pungkasnya.(M.S. Zuhrie/Hendra Irawan)