Komisi II DPRD : Ruas Jalan Di Pulau Maratua Perlu Rambu Dan Marka

 

PULAU MARATUA – Kecelakaan yang melibatkan dua orang siswa SMA dan seorang warga Kampung Payung-Payung akhir September lalu di Pulau Maratua, tak hanya menjadi sorotan segenap jajaran Muspika Kecamatan Pulau Maratua saja. Ternyata, peristiwa itu juga menyita perhatian dari Komisi II DPRD Berau.

Mengapa tidak, kecelakaan tersebut juga dikabarkan berujung maut yang menyebabkan salah seorang korban meninggal dunia. Tentu saja hal itu perlu diwaspadai oleh masyarakat, mengingat di sekitar jalan tersebut belum ada terpasang marka dan rambu-rambu jalan.

Seperti yang terlihat di Kampung Bohe Bukut menuju Kampung Payung-Payung yang sudah dihitamkan oleh Pemkab Berau. Namun, hingga kini belum ada terlihat rambu yang terpasang. Padahal rambu lalu lintas amat penting guna memberikan peringatan kepada pengendara.

BACA JUGA : Nahas, Hendak Pergi Sekolah Malah Sampai Ke RSUD

“Jalan itu sudah memakan dua korban jiwa, pertama sebelum lebaran lalu, dan kedua pada akhir bulan lalu. Ini berarti perlu ada sosialisasi terkait keselamatan berlalu lintas, dan pemasangan rambu dan marka jalan juga harus segera dipasang,” ungkap anggota Komisi II DPRD Berau, Achmad Rijal kepada beraunews.com, Minggu (9/10/2016) setelah dirinya bersama anggota Komisi II lainnya, Muhammad Yunus melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Pulau Maratua tanggal 6-8 Oktober 2016.

 

Sosialisasi keselamatan dalam berlalu lintas dan pemasangan rambu dan marka jalan dinilai Kamai (sapaan akrab Achmad Rijal) cukup mendesak. Pasalnya, dengan kondisi jalan di Pulau Maratua yang semakin tahun semakin mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tentu saja mempengaruhi pola pikir remaja disana dalam berkendara.

Jalan yang semula dipenuhi bebatuan, kini berubah menjadi aspal. Tak ayal kerap terlihat aksi kebut-kebutan, dan berpotensi berujung maut. Tetapi kata dia, pihak Muspika Kecamatan Maratua juga telah mengambil sikap, dengan melarang anak SMP atau SMA pergi ke sekolah dengan membawa kendaraan sepeda motor.

“Sekarang ini untuk SMP dan SMA dijemput pakai mobil bak terbuka, baik pulang maupun pergi ke sekolah. Ini langkah tepat, jangan sampai peristiwa serupa kembali terjadi,” ujarnya.

Meski begitu, pihaknya tetap berharap kepada orang tua agar selalu mengawasi anaknya dalam berkendara, terutama mereka yang masih di bawah umur. Apalagi, disampaikan Kamai, untuk tahun 2017 mendatang, lanjutan pengaspalan jalan rencananya akan kembali dilakukan. Dengan semakin banyaknya ruas jalan yang di aspal disana, jelas potensi kecelakaan berlalu lintas juga akan meningkat.
“Direncanakan ada dana Rp20 miliar untuk meneruskan pengaspalan jalan dari Bohe Bukut ke Teluk Alulu. Sudah ada dalam draft RAPBD 2017 yang akan dibahas dengan DPRD. Kami berharap masyarakat di Pulau Maratua selalu menjaga keselamatan dalam berkendara,” imbuhnya.

 

Hal senada juga disampaikan Muhammad Yunus. Hanya menurutnya, dengan ditingkatkannya ruas jalan yang ada di Pulau Maratua tersebut, Dinas Perhubungan Kominukasi dan Informatika (Dishubkominfo) Berau selaku instansi teknis, harus cepat tanggap.

“Artinya apa, Dishubkominfo harus lebih memahami, setelah membangun jalan, marka jalan harus ada, dan rambu-rambu jalan juga harus ada,” ujarnya.

Kendati demikian, bukan berarti sejumlah kecelakaan yang terjadi dikarenakan kurangnya rambu-rambu lalulintas dan marka jalan.

“Paling tidak, minimal mengurangi angka kecelakaan dengan adanya peringatan-peringatan dari rambu itu,” pungkasnya.(Hendra Irawan)