Bupati : Meski Defisit, Paket Penaganan Banjir Tetap Berjalan

 

TANJUNG REDEB – Pemkab Berau melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) telah menganggarkan peningkatan saluran drainase kawasan dalam Kota Tanjung Redeb dengan nilai pagu paket Rp49.910.968.146,00. Pengadaan ini untuk penanganan banjir yang kerap melanda Jalan Durian III, Pulau Kakaban, Pulau Semama, Pulau Sambit dan sekitarnya. Namun, proyek saluran drainase ini diungkapkan Kepala DPU Berau, Taupan Majid dipastikan batal.

Menanggapi hal itu, Bupati Berau Muharram mengatakan, penghentian proyek saluran drainase tersebut merupakan bagian dari langkah efisiensi anggaran yang saat ini harus dilakukan Pemkab di tengah kondisi defisit anggaran. Kebijakan itu juga bersifat sementara, sembari melihat kondisi keuangan daerah yang secara spontan mengalami defisit.

“Artinya, seorang pemimpin harus mengambil kebijakan cepat untuk mengatasi masalah yang memang betul-betul parah. Pada posisi seperti itu, ada kesepakatan kita untuk tidak menambah masalah baru,” katanya saat ditemui dikediamannya, Sabtu (17/9/2016) malam.

BACA JUGA : Banjir Masih Melanda, Paket Drainase Justru Batal

Dengan tidak menambah masalah baru, dijelaskan Muharram, Pemkab dapat lebih fokus menghitung seluruh APBD yang belum dipergunakan maupun Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) di masing-masing SKPD. Dalam waktu dekat, Pemkab akan segera mengetahui secara riil jumlah anggaran yang ada pada APBD Perubahan tahun 2016.

“Disitulah nanti kita akan menentukkan kebijakan,” jelasnya.

Namun dengan kondisi Kabupaten Berau terus diguyur hujan selama beberapa hari terakhir, ditambah Muharram, dirinya tetap menginstruksikan DPU untuk memantau titik-titik penghambat laju air pembuang, yang menyebabkan terjadinya banjir dadakan. Sebab, banjir yang terjadi hanya selama hitungan jam bukan karena kurangnya jumlah drainase yang ada, melainkan daya tampung (volume) saluran pembuang air ke sungai Segah yang mengecil. Akibat, banyaknya tiang bangunan di atas saluran tersebut.

“Ini hanya karena airnya terlalu lama antri. Kenapa antri? karena sempit pembuangannya. Itu saya suruh dan sudah ketemu ada beberapa titik, itulah yang akan kita coba hitung berapa anggaran yang dibutuhkan untuk menuntaskan itu,” tambahnya.

Terkait paket peningkatan saluran drainase kawasan dalam Kota Tanjung Redeb senilai Rp49 miliar itu, disampaikan Muharram, direncanakan akan tetap berjalan. Namun, akan menggunakan kontrak penganggaran tahun jamak (multiyears) dan akan teralisasi di tahun anggaran 2017. Terlebih, proyek tersebut memang menjadi prioritas yang utama dan diyakini dapat mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda beberapa kawasan dalam Kota Tanjung Redeb.

“Boleh jadi cuma Rp5 miliar dulu, nanti berikutnya berapa, sambil melihat perkembangan. Nanti sampai tuntas secara menyeluruh, itu bertahap. Itu yang saya maksud bahwa berikan dulu kesempatan kita bernafas untuk mengatur strategi supaya terselamatkan kondisi defisit ini,” pungkasnya.(Andi Sawega)