Banjir Masih Melanda, Paket Drainase Justru Batal

 

TANJUNG REDEB – Akibat hujan yang mengguyur Kabupaten Berau selama kurang lebih 2 jam, Sabtu (10/9/2016) sore, beberapa kawasan dalam kota Tanjung Redeb digenangi air dengan ketinggian bervariasi antara 20 centimeter hingga 1 meter.

Seperti pantauan beraunews.com di lapangan, kondisi banjir di badan jalan utama hingga gang-gang di Jalan H. Isa III, Merah Delima, dan Teuku Umar tergenang air dengan ketinggian mencapai 20 centimeter. Sedangkan di daerah Jalan Pulau Kakaban Gang Murjani I dan sekitarnya kedalaman air mencapai 1 meter.

BACA JUGA : Hujan 2 Jam Lebih, Banyak Wilayah Terendam Banjir

Kondisi yang serupa juga pernah dialami ratusan warga di kawasan itu pada akhir tahun 2015 lalu. Banjir ini menjadi langganan di beberapa kawasan tersebut apabila Kabupaten Berau diguyur hujan selama berjam-jam saja. Hal ini dinilai akibat buruknya sistem drainase, selain itu adanya bangunan rumah di atas saluran drainase yang menghambat laju air ke Sungai Segah.

 

Oleh karena itu, Pemkab Berau melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) pun telah menganggarkan peningkatan saluran drainase kawasan dalam Kota Tanjung Redeb dengan nilai pagu paket Rp49.910.968.146,00. Pengadaan ini untuk penanganan banjir yang kerap melanda Jalan Durian III, Pulau Kakaban, Pulau Semama, Pulau Sambit dan sekitarnya.

Namun, berdasarkan surat edaran Bupati Berau Nomor 900/034/BPKAD.B/2016 tentang Rasionalisasi APBD Tahun 2016 beserta lampirannya yang ditandatangani Bupati Berau, Muharram per tanggal 30 Agustus 2016 lalu. Bupati menginstruksikan kepada seluruh SKPD untuk menghentikan lelang paket pengadaan barang dan jasa di Unit Layanan Pelelangan (ULP). Baik, yang belum dilelang, sedang dalam proses lelang maupun memasuki tahap pemenang, sehingga proyek saluran drainase yang dimaksud juga dipastikan batal. Hal itu diungkapkan Kepala DPU Berau, Taupan Majid.

Dikatakannya, setidaknya ada sekitar 26 paket pekerjaan DPU yang belum masuk tahap lelang, terancam gagal untuk direalisasikan.

“Kemarin ada proyek yang sudah dilelang dan tinggal klik (pemenang) juga tapi dibatalkan lelangnya setelah turun surat edaran dari Bupati,” katanya saat dihubungi Beraunews.com, Minggu (10/9/2016).

 

Disampaikan Taupan, proyek penanganan banjir tersebut merupakan proyek yang diprioritaskan. Sebab, merupakan salah satu pekerjaan yang dapat memberikan dampak kepada masyarakat luas.

“Kalau seperti penanganan banjir ini kan proyek yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, artinya masyarakat bisa langsung merasakan dampak dari pekerjaan tersebut. Kalau biasanya hujan jadi banjir, seperti proyek drainase yang di Jalan Mangga II itu sekarang sudah tidak pernah lagi tergenang saat hujan,” jelasnya.

Gagalnya proyek saluran drainase tersebut merupakan bagian dari langkah efisiensi anggaran yang saat ini dilakukan Pemkab di tengah kondisi defisit anggaran. Setidaknya, nilai pagu anggaran seluruh paket pekerjaan yang dibatalkan di DPU Berau mencapai Rp 80 miliar.

“Mau tidak mau proyek yang kita anggap prioritas ini juga gagal, sebab dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek itu juga cukup besar,” tandasnya.(Andi Sawega/Marta)