Rusa Sambar Kalimantan Terancam Punah, Perburuan Makin Marak

BATU PUTIH – Perburuan hewan liar seperti Rusa Sambar (Cervus unicolor) atau yang biasa disebut Payau masih terus terjadi di Kecamatan Batu Putih. Bahkan tak jarang, dagingnya diperjual belikan kepada masyarakat. Hal itu juga menegaskan, jika peminat daging payau untuk dikonsumsi masih tinggi.

Padahal perburuan rusa sambar sendiri telah dilarang oleh pemerintah terlebih menjual dagingnya, sebagaimana dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Bahkan, Dinas Peternakan Kalimantan Timur menyatakan populasi rusa sambar terancam punah pada lima tahun terakhir ini. Perburuan liar lima ribu ekor rusa setiap tahunnya dituding jadi penyebab merosotnya populasi hewan Asia Selatan yang hanya bisa didapati di Kalimantan dan Sumatera ini.

"Banyak diburu masyarakat di Kaltim,” kata petugas UPTD Balai Pembibitan dan Inseminasi Buatan (BPIB) Kabupaten Penajam Paser Utara, Ali Faisyal, Senin (25/4/2011) sebagaimana dikutip beraunews.com dari m.tempo.co.

Berdasarkan informasi yang dihimpun beraunews.com, perburuan rusa masih sering dilakukan oleh oknum warga di beberapa kampung. Bahkan beberapa hari lalu, salah seorang warga mendapat sekor rusa yang bobotnya cukup besar.

Kondisi ini pun disayangkan oleh sejumlah masyarakat, karena populasi rusa yang ada di hutan Batu Putih sudah mulai sedikit. Apalagi hingga saat ini, belum ada tindakan apapun yang dilakukan pihak terkait dalam mencegah perburuan tersebut.

“Jelas kita sangat sayangkan perburuan ini. Karena kita semua tahu populasi rusa ini sudah sangat sedikit,” ungkap Ihsan warga Kampung Batu Putih, Jum’at (26/8/2016)

Sebenarnya, tidak hanya rusa saja yang menjadi target buruan di Kecamatan Batu Putih. Hewan liar seperti kijang dan babi hutan pun juga tak luput dari sasaran. Meskipun dikatakannya, harga daging babi dan kijang lebih murah dari daging rusa.

“Kalau kijang dan rusa biasanya dipasarkan di sekitar Kecamatan Batu Putih saja. Kalau babi, biasanya dijual sampai ke kabupaten tetangga, Bulungan,” bebernya.

Sementara itu, Fajri warga lainnya juga mengatakan senada. Menurutnya, perburuan binatang liar tersebut seperti sudah menjadi sebuah tradisi yang sulit dihentikan. Apalagi, tidak sedikit juga masyarakat mencari penghasilan tambahan dengan cara berburu.

“Memang susah. Itu sudah menjadi pekerjaan mereka sejak dulu,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang pengepul daging rusa yang berada di Kecamatan Batu Putih mengatakan, dirinya membeli daging rusa dari oknum pemburu. Dijelaskannya, kebanyakan rusa yang ia beli didapatkan dengan jerat. Rusa yang ia beli terkadang dijual masih utuh, namun ada juga yang sudah dalam keadaan bersih.

"Tadi pagi datang, kita jual kembali dengan harga Rp80 ribu per kilogram,” tutup warga yang enggan disebutkan namanya itu.(Hendra Irawan)