Air Di Derawan Bisa Tercemar Akibat Ulahnya Sendiri

PULAU DERAWAN – Masyarakat Pulau Derawan mungkin belum mengetahui dampaknya jika mereka terus menerus membuang limbah rumah tangga secara langsung ke tanah. Pasalnya, air yang mereka konsumsi tersebut berasal dari tanah itu sendiri. Dengan luasan daratan yang kecil, sumber air tanah masyarakat sangat terpengaruh pada air yang meresap ke dalam tanah.

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2013 lalu, air tawar yang ada di dalam tanah Pulau Derawan tersebut berada dikedalaman 5 meter dan itu mereka gunakan terus menerus secara bergantian.

Menurut keterangan Petugas Konservasi di Pulau Derawan, Ading Kurniadi, jika air tawar yang ada merupakan hasil resapan air hujan yang tertampung dalam tanah. Jika masyarakat terus membuang limbah seperti deterjen, sampah dan bahan kimia, bisa berdampak langsung bagi kesehatan mereka sendiri.

“Saya khawatir jika secara tidak sadar hal itu terus mereka lakukan akan membuat air tawar yang ada di dalam tanah tercemar oleh buangan limbah rumah tangga dan sebagainya,” ungkapnya kepada beraunews.com saat dihubungi lewat saluran selularnya, Selasa (2/8/2016).

Penelitian yang dilakukan LIPI, dikatakan Ading, air tawar yang ada di dalam tanah bergantung pada air hujan. Jika musim kemarau tiba, maka volume air tawar di dalam tanah itu sendiri berkurang.

“Kebiasaan buruk juga sering dilakukan masyarakat disini saat menyedot air. Saat mengambil air, mereka membiarkan air tersebut tumpah kembali ke tanah. Jika tempat airnya sudah penuh seharusnya dimatikan. Hal itu yang masih sering diabaikan,” ucapnya lagi.

Terkait permasalahan tersebut, pemerintah daerah melalui pejabat aparat kampung perlu melakukan upaya untuk mengantisipasi penggunaan air bersih di Pulau Derawan dengan melakukan kegiatan penyuluhan agar masyarakat perlu mengetahui itu semua dan bisa lebih memperhatikan hal sepele yang sering dilakukan tanpa memikirkan dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh banyak orang.

“Saya khawatir jika kebiasaan itu terus-menerus dilakukan akan memberikan dampak buruk bagi semua orang di Pulau Derawan kedepannya. Sampai saat ini, mereka belum mengerti dan hingga saat ini belum ada langkah selanjutnya,” ujarnya lagi.

Diketahui dari hasil penelitian dari LIPI yang dijelaskan Ading, jika dikedalaman 4 sampai 5 meter itu terdapat air tawar, selebihnya air asin. Saat penelitian dilakukan, mereka mengebor tanah hingga kedalaman 70 meter.

“Dua meter dari pasir kalau kita gali itu sudah mulai ada airnya, tiga meter lagi ke bawah itulah sumber air tawarnya. Kedalaman 60 meter warna tanah itu berwarna kekuningan,” tutupnya.(ea)