Tangani Sampah, Bisa Tiru Budaya Jepang

TANJUNG REDEB – Untuk mengatasi permasalahan sampah di sungai yang saat ini seolah tak ada habisnya, Dinas Keberisihan dan Pertamanan (DKP) Berau akan menyampaikan usulan kepada Bupati dan Wakil Bupati Berau terkait beberapa programnya. Selain alat dan tenaga, tapi juga ada satu pelajaran yang bisa ditiru dari negara Jepang terkait sampah ini.

Kepala DKP Berau, Ismail mengatakan, saat ini sampah rumah tangga masih mendominasi sampah-sampah yang ada di sungai. Tak sedikit rumah-rumah yang ada di bantaran sungai menyumbang sampah terbesar ke sungai.

“Kita melakukan pembersihan sampah di sungai itu hanya 6 kali dalam 1 tahun, sebenarnya itu tidak cukup dan kami perlu alat dan Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk penanganan sampah itu,” ungkapnya kepada beraunews.com baru-baru ini.

Dikatakannya, beberapa waktu lalu ia sempat bertemu dengan beberapa rekan DKP luar Berau yang baru pulang dari negara Jepang. Dari kunjungan mereka tersebut, ternyata banyak pelajaran yang juga bisa dilakukan di Indonesia, khususnya Kabupaten Berau.

“Di Jepang, 30 menit sebelum sekolah anak-anak diminta untuk membersihkan sekolah bersama-sama, itu menurut saya merupakan budaya yang baik sekali,” tambahnya.

Dengan budaya yang seperti itu dan dilakukan sejak dini di sekolah-sekolah. Bisa dipastikan anak-anak akan peka terhadap orang yang akan membuang sampah bukan pada tempatnya dan bisa mengimbau orang rumahnya agar tidak membuang sampah di sungai.

“Itu rencana akan kita sampaikan juga kepada penentu kebijakan. Mereka (siswa-red) bisa membantu kita memberi pemahaman dengan orang rumahnya agar tidak membuang sampah sembarangan apalagi di sungai,” pungkasnya.(dws)