Ternyata Masih Ada Produksi Karapas Penyu di Derawan

PULAU DERAWAN – Meski telah dilarang secara keras menjual souvenir dari kerapas atau sisik penyu sesuai peraturan berlaku, tidak membuat warga di Pulau Derawan bisa meninggalkan mata pencaharian yang telah dilakoni sejak nenek moyang mereka. Fakta ini kembali didapati beraunews.com, saat melakukan investigasi ke Pulau Derawan.

Temuan lapangan, Minggu (31/7/16), masih ada warga yang menjual souvenir berbahan sisik penyu. Mereka menjual aksesoris seperti gelang, cincin dan kalung itu secara tersembunyi tanpa menggelar dilapak seperti biasanya. Para penjual tidak sembarang menawarkan dagangannya kepada wisatawan.

“Kalau mau saya punya gelang dan cincin. Gelangnya Rp20 ribu dan cincin Rp5 ribu. Ini sengaja saya simpan di tas karena menjual aksesoris sisik penyu ini sudah dilarang makanya saya sembunyikan. Takut saja kalau dilihat petugas, barang dagangan saya bisa disita,” ujar seorang ibu penjual aksesoris itu kepada beraunews.com.

Ia mengakui jika bahan kerapas penyu tersebut diperoleh dari para nelayan dan ironisnya lagi, aksesoris sisik penyu tersebut diproses sendiri dirumahnya dengan menggunakan mesin. Selai itu, diakuinya jika masih ada warga lainnya yang menjual aksesoris seperti ini.

“Saya bikin sendiri di rumah, ini ada mesinnya saya bawa. Mudah saja buatnya, kalau habis beli kulitnya, membuatnya hanya butuh 1 sampai 2 hari saja. Ini mata pencahaarian saya dari dulu, jika saya tinggalkan saya dapat apa,” keluhnya.

Fakta ini membuktikan sosialisasi larangan mengolah dan menjual aksesoris berbahan karapas penyu tidak diindahkan. Mengenai hal tersebut, Kabid Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Berau, Yunda Zuliarsih mengakui jika masih ada sebagian warga belum bisa terima dengan peraturan tersebut. Meski demikian, pihaknya terus berupaya agar warga di wilayah pesisir, khususnya Pulau Derawan tidak lagi menjual atau pun memproduksi souvenir dari bahan kerapas penyu.

“Kami sudah melakukan berbagai cara untuk tidak ada lagi warga yang menjual dan memproduksi aksesoris tersebut. Namun kenyataannya masih ada dan itu membuat kami kesulitan karena mereka menjual secara diam-diam. Tapi kami terus berupaya agar mereka tidak lagi menjual aksesoris tersebut,” pungkasnya.

Untuk diketahui, pasal 40 ayat 2 Undang-undang Nomor 5/1990, secara tegas melarang pemanfaatan bagian tubuh hewan yang lindungi dan barang siapa yang melanggarnya akan diancam hukuman kurungan penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp100 Juta. Namun, tampaknya larangan itu tampaknya harus disertai dengan solusi.(ea)