Racun Hama Mulai Marak Digunakan Penangkap Ikan

 

BATU PUTIH - Sejumlah anak sungai yang ada Kampung Tembudan, Kecamatan Batu Putih, khususnya di wilayah Kilometer 18 hingga kilometer 28, mulai marak aktivitas penangkapan ikan menggunakan racun pembasmi hama. Diduga, penggunaan bahan kimia tersebut dilakukan secara sengaja oleh oknum warga, agar tangkapan ikan lebih banyak dan mudah.

Hal itu disampaikan sejumlah warga yang kerap memancing di sekitar anak sungai tersebut. Penangkapan dengan menggunakan racun hama sepertinya memang sudah cukup lama dilakukan. Bahkan, saat memancing terkadang menemukan ikan mengapung dalam keadaan mati.

"Kalau menangkap pakai racun memang sudah lama. Biasanya, mereka ini agak jauh ke dalam, mencari yang agak surut airnya. Dan juga yang mereka tangkap ini sepertinya hanya ikan besar saja, kalau yang kecil dibiarkan. Makanya kadang kalau kita mancing ketemu banyak anak ikan mati," kata Ramli, salah seorang petani yang kerap memancing di anak sungai tersebut, kepada beraunews.com, Jumat (04/08/2017).

Dirinya mengaku tidak mengetahui siapa dan dari mana oknum yang menangkap ikan dengan racun tersebut. Namun dikatakannya, dengan aktivitas itu, selain membunuh ikan-ikan kecil, juga mencemari anak sungai.

"Yang kita sayangkan, anak ikan yang harusnya masih bisa berkembang, jadi mati," kesalnya.

Sementara Jupri, warga lainnya juga mengungkapkan hal senada. Dikatakannya, dari pada menggunakan racun, lebih baik menggunakan jaring atau alat tangkap yang ramah lingkungan.

"Saya juga sering cari ikan di sekitar sungai itu kalau ada waktu senggang, tapi pakai jaring, kadang juga bawa pancingan. Itu lebih ramah lingkungan daripada pakai racun," bebernya.

Senada dengan Ramli, menurutnya memang anak sungai tersebut kerap dibubuhi racun hama, hanya saja tidak setiap hari. Bahkan kata dia, selain racun hama yang biasa dibeli di toko pertanian, ada juga warga yang menggunakan tumbuh-tumbuhan hutan untuk dijadikan racun.

"Biasanya racun yang dipakai itu jenis Theodan, dan tanamam Tuba, sejenis akar-akaran. Tapi sepertinya tidak setiap hari juga," ujarnya.

Dirinya juga menyampaikan, aktivitas tersebut tidak hanya terjadi di anak-anak sungai yang ada di kilometer 18 hingga 28 saja. Anak-anak sungai yang airnya dangkal di tempat lain juga kerap dicemari racun hama.

"Sepertinya ini ulah orang iseng saja, karena malas berusaha. Tapi kalau boleh jangan sampai diracuni lagi," tandasnya. (bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: R. Amelia