Sungai Dihuni Predator, Polisi Minta Dipasangi Tanda “Awas Buaya Ganas”

 

TALISAYAN – Guna mengantisipasi terjadinya korban akibat keganasan buaya, Kapolsek Talisayan Iptu Faisal Hamid, meminta masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang dihuni predator ganas untuk selalu waspada ketika mandi, atau melakukan ativitas di sekitar sungai. 

Pasalnya saat ini, di wilayah hukumnya terdapat sejumlah sungai yang berada di beberapa kampung, dihuni oleh buaya. Bahkan, beberapa kali mengakibatkan korban luka maupun korban jiwa. Ia mengatakan, seperti kasus korban dimangsa buaya di Kampung Lempake, Kecamatan Biatan beberapa waktu lalu, harus menjadi pelajaran bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai.

“Kita ingin kasus di Lempake itu jadi perhatian kita bersama. Jangan sampai, sungai yang sudah diketahui dihuni oleh buaya, kita masih menceburkan diri atau berenang bebas. Ini kesalahan yang bisa berakibat fatal,” ungkapnya kepada beraunews.com, Kamis (27/07/2017).

Disampaikannya, saat ini ada beberapa anak sungai yang diduga menjadi habitat buaya. Seperti sungai yang ada di Kampung Lempake yang telah dua kali menelan korban jiwa. Sungai Bakil di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, dan anak sungai yang ada di Kampung Tembudan.

Lanjut dikatakannya, untuk predator yang berada di Sungai Bakil, sejauh ini kata dia, belum pernah memangsa manusia. Namun, bukan berarti masyarakat harus berani dengan reptil tersebut. Meskipun yang ada di sungai itu dianggap masyarakat setempat “ramah lingkungan”, masyarakat juga harus tetap waspada. Pihaknya juga menganjurkan untuk sungai yang dihuni buaya dapat diberikan tanda atau peringatan.

“Di sungai di Tembudan juga pernah ada kasus manusia dimangsa buaya, padahal buaya di sana kerap dianggap tidak mengganggu. Beruntung, korbannya masih bisa selamat. Makanya perlu diberikan tanda semacam peringatan ‘Awas Buaya Ganas’. Sebab, tidak semua orang tahu kalau sungai itu dihuni buaya, terutama warga pendatang,” jelasnya.

Pihaknya juga tidak memungkiri, jika selama ini masih banyak yang menilai buaya adalah binatang keramat, atau memiliki unsur gaib. Tetapi ditegaskannya, masyarakat perlu memahami, jika buaya bertahan hidup atau mencari makan dengan mengandalkan insting atau naluri hewannya.

“Perlu diingat buaya adalah hewan buas. Jika lapar, apapun yang dianggapnya mangsa pasti akan dia terkam, termasuk manusia. Kita imbau masyarakat hati-hati saat berada di tepi sungai yang ada buayanya, jangan sampai ada lagi kasus orang dimakan buaya,” imbaunya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: Rita Amelia