Status Pasar SAD sebagai Pasar Terbaik Se-Indonesia Dipertanyakan Wisatawan

 

TELUK BAYUR - Libur lebaran kemarin tidak dipungkiri banyak wisatawan yang berkunjung ke Berau. Namun, bukan hanya mengunjungi objek wisata, pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD) pun menjadi tujuan bagi mereka, lantaran namanya yang sudah tersohor hingga ke seluruh Indonesia ini. Ya, pasar yang memiliki luas tujuh hektar ini memang menyandang predikat nomor satu pasar tradisional di Indonesia.

Sayangnya, kekecewaan justru dirasakan para pengunjung. Bukan melihat pasar bersih, melainkan banyak sampah bekas pedagang yang berhamburan di lingkungan komplek pasar. Mulai dari sampah kering seperti kardus maupun sampah basah seperti sisa kupasan sayur dan lainnya. Karena itulah, gelar pasar terbaik di Indonesia pun dipertanyakan Herlina, wisatawan asal Kota Tepian Samarinda.

"Kok pasarnya kotor, padahal di gapura pasar ada plakat yang ditandatangani Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo jika pasar ini mendapat gelar terbaik tingkat nasional, nyatanya kurang tepat tuh dengan adanya serakan sampah bahkan sepertinya tidak ada yang urus,” ungkapnya kepada beraunews.com.

 

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kepala UPTD Pasar SAD, Najamuddin mengakui jika pihaknya memang kecolongan, dalam artian, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh pedagang dan karyawan, jika selama lebaran, pasar ditutup selama tiga hari. Namun dalam pelaksanaannya, pedagang banyak yang tidak mengikuti aturan, alhasil banyak sampah yang tidak termanajemen dengan baik.

“Memang kami mendapat info bahwa ada yang berjualan, sementara pasar dalam kondisi tidak beroperasi karena sedang libur lebaran. Dan kami sudah menegur perwakilan pedagang. Menurut informasi yang kami dapatkan juga, mereka berjualan di teras bukan di dalam, itulah yang menyebabkan banyaknya sampah,” ungkapnya.

Najamudin juga menambahkan, ke depannya akan memanggil seluruh perwakilan pedagang untuk membahas hal ini guna menjaga predikat pasar SAD sebagai pasar tradisional terbaik.(bnc)

Wartawan: Rama Sihotang/Editor: R. Amelia