Lahan Pertanian di Tengah Kawasan Industri Terkadang Sulit Akur

 

GUNUNG TABUR – Wilayah sekitaran kawasan industri terkadang mempunyai pemandangan yang unik, yaitu lahan pertanian disekelilingnya. Tetapi, rupanya pertanian dan industri tak selamanya bisa berjalan beriringan.

Seperti yang terjadi di Sambarata, Kecamatan Gunung Tabur. Antara perusahaan dengan para petani sering terjadi cekcok, dikarenakan kegiatan perusahaan dianggap dapat menimbulkan kerugian petani, bahkan merusak lahan pertanian itu sendiri.

“Kan kebun kami ini berada di pinggir jalan perusahaan, sudah pasti tiap hari kendaraan perusahaan bolak-balik. Jika cuaca sedang panas, terkadang debu yang disebabkan oleh kendaraan pengangkut hasil industri itu sampai menutupi bibit-bibit tanaman yang masih kecil, sehingga gagal tumbuh,” ucap salah satu petani di Sambarata, Alung, kepada beraunews.com, Sabtu (29/04/2017).

“Malah, kami harus menegur dulu, baru mereka mau membasahi jalanan itu, agar debu jalanan bisa berkurang,” sambung petani lain, Murniani.

Dari petikan suara petani itu saja kita sudah bisa menebak jika lahan pertanian di tengah-tengah kawasan industri sulit akur. Memang, terkadang hal semacam ini perlu mendapatkan perhatian dari masing-masing pihak, baik petani maupun perusahaan, untuk dapat saling mengerti situasi maupun keadaan yang ada.

“Seminggu sekali terkadang kami mendapatkan bantuan berupa pasokan air minum, 1 galon terkadang 2 galon, tetapi sudah sekitar dua minggu ini belum dapat bantuan lagi,” kata petani lainnya juga, Bakkar.

“Kami sih maunya dari pihak perusahaan dapat berkerja sama agar kegiatan industri maupun kegiatan proyeknya tidak mengganggu lahan pertanian kami,” sambungnya.

Diketahui, Kalimantan Timur khususnya Berau, memang mempunyai banyak perusahaan industri batubara. Wilayah sektor industrinya pun selalu tidak jauh-jauh dari lahan pertanian. Hal inilah yang kemudian banyak menimbulkan gesekan antara perusahaan industri dengan para petani di wilayah tersebut.

Perlu diketahui juga, dua kegiatan tersebut memang sering berada di satu tempat yang sama. Tinggal dari interaksi kedua pihak, agar dapat mengurangi terjadinya konflik, juga terciptanya kenyamanan bersama.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia