Nelayan Nakal? Ini Tanggapan Dinas Perikanan

 

TANJUNG REDEB – Kegiatan nelayan seperti menjala, memancing, dan memasang pukat merupakan hal biasa yang wajar terjadi, tetapi apa jadinya bila para nelayan ini justru melakukan hal yang merusak ekosistem sungai seperti meracun dan menyetrum?

Masyarakat, aparat, dan bahkan pemerintah sudah semestinya berkerja sama dengan tujuan untuk meminimalisir kegiatan nelayan nakal semacam ini. Entah menegur, menasehati, memberikan sosialisasi ataupun sanksi serta tindakan yang tegas.

Kepala Bidang Perikanan, Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, ketika dihubungi via telepon selulernya, Selasa (25/04/2017), memaparkan terkait hal ini.
 
“Sebenarnya nelayannya yang memang tidak mau mengikuti aturan untuk menangkap ikan dengan alat tangkap ramah lingkungan, padahal kami sudah sering mensosialisakan tentang hal semacam ini,” ucapnya.

Kegiatan tersebut selain merusak ekosistem sungai, memusnahkan bibit-bibit ikan, juga dapat mencemari lingkungan karena bahan-bahan kimia yang terkandung di racun, banyak terbuang dan menyebar di aliran sungai.

“Untuk waktu singkat memang hasilnya lebih menguntungkan, tapi untuk jangka panjang akan mengakibatkan sulitnya memperoleh ikan dengan jumlah yang banyak,  karena dengan menyetrum dan meracun, mengakibatan ikan-ikan ukuran kecil pun akan mati dan ekosistem dalam sungai akan ikut tercemar,” sambungnya.

Kegiatan nelayan nakal ini pun sudah melanggar aturan pada Undang-Undang Nomor 31/2004 Tentang Perikanan, juga Undang-Undang Nomor 45/2009 pasal 8 Tentang Konservasi Sumber Daya Ikan.
 
“Ada bantuan jaring untuk nelayan, misalnya nelayan di daerah Teluk Bayur. Tolong manfaatkan alat menangkap ikan yang sudah ada, yang merupakan bantuan dari Dinas Perikanan. Lakukan penangkapan ikan dengan alat ramah lingkungan agar ekosistem perairan tetap terjaga untuk anak, cucu kita nanti,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia