Jamban dan Limbah Industri, Saling Bekerja Sama Mencemari Sungai

 

TELUK BAYUR – Jamban apung sudah seperti pemandangan biasa jika kita sedang duduk di bantaran sungai. Tak usah jauh-jauh ke kali Ciliwung Jakarta untuk melihat realita semacam itu. Di Kabupaten Berau pun kita masih bisa melihatnya.

“Jika dilihat dari pola perilaku, pasti sudah tidak sehat. Kita mau melarang juga tidak bisa, karena memang tinggalnya dekat sungai, jadi otomatis hasil buang air mereka, jatuhnya pasti ke sungai,” ucap Ketua RT 2 Sungai Kuyang, Sabransyah, saat ditemui beraunews.com, Sabtu (22/04/2017).

Memang jamban bisa dikatakan WC umum alternatif hemat biaya dan juga tanpa penjaga, apalagi plus bisa melihat pemandangan sekitaran sungai. Tetapi coba jika dipikir, bila ini terus-terusan menjadi pola perilaku masyarakat, pasti akan berdampak buruk pada generasi yang akan datang nanti.

Sebenarnya, Pemkab Berau sudah menggalakkan hidup sehat dengan penggunaan WC yang semestinya, yakni berada di dalam rumah. Tetapi kendala yang muncul untuk meminimalisir realita tersebut adalah wilayah untuk membangun WC umum yang sehat, sulit ditemukan karena sebagian besar kawasan di sekitar pemukiman harus mendapat persetujuan dari masyarakat, terlebih lagi banyak lahan yang ada tetapi telah bersertifikat.

“Sudah sempat ada kerjasama dengan tim Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH), Jika ada arahan yang pasti, kita siap gusur, tetapi dengan berkonsultasi dahulu dengan masyarakatnya, apakah mereka juga siap. Memang sempat juga disiapkan dana dari tim PLH untuk membangun WC umum sehat, tetapi lokasinya belum ada,” imbuhnya.

“Sebenarnya bukan hanya dari limbah-limbah masyarakat yang mencemari sungai, tetapi juga limbah-limbah industri. Karena secara tidak sadar, air kita ini sudah diambang terkontaminasi,” ucap salah satu warga Sungai Kuyang, Hendra.

Memang perusahaan yang ingin membuka industri di tengah-tengah masyarakat sudah memiliki ijin AMDAL, tetapi hal ini tak lantas membolehkan perusahaan mendirikan industri.

“Dengan iming-iming terjaga lingkungan mulai dari faktor sosial, ekonomi dan sebagainya, tetapi nyatanya apa? Masyarakat malah lebih menderita lagi dengan kegiatan industri tersebut, contohnya petani dan nelayan di sekitaran Sungai Kuyang ini,” sambungnya.

“Faktor utamanya sudah pasti limbah industri yang langsung terbuang ke sungai.  Dahulu saat sebelum banyak industri yang berdiri, warna air sungainya tak sepekat ini,” tutup Hendra.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia